Pariwisata Indonesia Prospektif Dikembangkan

SEKTOR RIIL

Pariwisata Indonesia Prospektif Dikembangkan

JAKARTA, KOMPAS  — 29 Agustus 2017

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO

Kawasan perairan di Pianemo yang memiliki pemandangan mirip Wayag−sama-sama berada di Raja Ampat, Papua Barat−dideklarasikan masyarakat setempat menjadi perairan perlindungan laut Kepulauan Fam. Perairan ini memiliki luas 350.000 hektar serta menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan dan karang, seperti terlihat pada Kamis (17/2).

Bidang pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan untuk menambah devisa negara. Sektor ini juga bisa menyerap tenaga kerja yang cukup besar.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pariwisata menjadi sektor unggulan untuk menambah devisa negara. ”Keunggulan ini dapat dilihat dari lokasi geografis Indonesia yang strategis serta keanekaragaman alam, budaya, dan bahasa negeri ini,” katanya, Selasa (29/8), di Jakarta.

Karena pariwisata prospektif menjadi sektor unggulan, diperlukan pengembangan destinasi pariwisata. ”Pengembangan ini membutuhkan tenaga kerja siap pakai di bidang pariwisata. Kebutuhan ini akan meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Bambang.

Berdasarkan dokumen rencana strategi Kementerian Pariwisata 2015-2019, jumlah tenaga kerja total di sektor pariwisata ditargetkan 12,7 juta orang pada 2018 dan mencapai 13 juta orang pada 2019.

Menurut Bambang, untuk mengembangkan sektor pariwisata di suatu daerah, perlu tenaga kerja yang berasal dari daerah itu sendiri. Dia menjelaskan, ”Orang-orang asli daerah itu yang lebih paham daerahnya sendiri. Akan tetapi, mereka perlu dilatih secara khusus untuk mengembangkan pariwisata di daerahnya.”

Pelatihan itu dapat diperoleh melalui pendidikan kejuruan, pemagangan, atau balai latihan kerja (BLK). Bappenas mencatat, ada 16 BLK kejuruan pariwisata, 982 SMK kejuruan pariwisata, 14 sekolah tinggi kepariwisataan, dan 2 politeknik kepariwisataan.

Ide ini disambut baik oleh pengamat pariwisata, Sapta Nirwandar. ”Kalau perlu, satu kabupaten satu destinasi pariwisata,” katanya.

Dia menjelaskan, dari sekitar 500 kota dan kabupaten di Indonesia, kurang dari 10 persen yang sudah memiliki destinasi pariwisata. ”Padahal, ada 300 sampai 400 destinasi pariwisata yang dapat menjadi ikon daerah masing-masing,” ujarnya.

KOMPAS/INGKI RINALDI

Sejumlah pengunjung menikmati hamparan kebun bunga di Taman Rekreasi Hotel dan Restoran Selecta, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (29/3/2011).

Perkembangan pariwisata di kota Batu, Jawa Timur, dijadikan contoh oleh Sapta. Dia menceritakan, pada tahun 2000 destinasi pariwisata yang terkenal dari Kota Batu adalah air terjun Coban Rondo, permandian air hangat Songgoriti, dan taman rekreasi Selecta. ”Sekarang ditambah lagi dengan adanya Jawa Timur Park 1 dan 2, Museum Angkut, dan Batu Night Spectacular,” katanya.

Untuk meningkatkan potensi pariwisata di daerah, pemerintah pusat perlu bersinergi dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan atraksi, aksesibilitas, dan amenitas (sarana-prasarana). ”Tentunya sinergi ini tidak lepas dari otonomi daerah itu dalam mengembangkan pariwisatanya,” katanya.

Akan tetapi, sinergi ini menjadi tantangan bagi agen perjalanan. Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Asnawi Bahar menyampaikan, belum semua kepala daerah dapat diajak bekerja sama. ”Karena itu, bagi kami lebih baik fokus dalam pengembangan satu atau dua destinasi pariwisata yang memang siap dipasarkan,” ujarnya.

Ada tiga parameter yang menjadi indikator kesiapan tersebut, menurut Asnawi, yakni kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), dan masyarakat sekitar. Dia menjelaskan, ”Infrastruktur bisa dilihat dari aksesnya. Kesiapan SDM dapat ditinjau dari adanya pemandu lokal, sedangkan kesiapan masyarakat sekitar dilihat dari kesadaran akan budayanya.” (DD09)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *