Adventure Tour ke Nusa Penida

TRIP TOUR KE NUSA PENIDA


Perjalanan dimulai dari Pantai Sanur, di mana berjejer Counter berbagai Agent Kapal Fast Boat yang melayani penyeberangan ke Nusa Penida, Nusa Ceningan maupun Nusa Lembongan. Bahkan ada yang langsung melayani Trip menuju Gili Trawangan yang masuk wilayah Pulau Lombok – Nusa Tenggara Barat, sangat terkenal di NTB.

Yang kami pilih adalah Trip ke Nusa Penida bersama rombongan tamu dari Jakarta, pada hari Jumat pagi 20 April 2018.

Foto by (Gde Nogata)

Tepat pukul 08.30 petugas Fast Boat Maruti Express mempersilakan para penumpang untuk menaiki Kapal Duta II yang akan mengantarkan Rombongan Tour kami menuju Nusa Penida pagi itu. Kebetulan cuaca juga sangat bersahabat, sehingga perjalanan yang ditempuh dalam waktu 45 menit kami rasakan sesuai dengan jarak tempuhnya yang 6 – 8 km.

Foto by (Gde Nogata)

Kebetulan juga kami para pemandu rombongan, tumben mengadakan tour ke Nusa Penida. Mendekati kawasan pantai Nusa Penida yang akan dituju, Fast Boat yang kami tumpangi nampak dermaga yang begitu bersih dan nyaman dan air laut bening. Sangat berbeda dengan saat berangkat dari Sanur, di mana saat menaiki Kapal mesti melalui bebatuan karang yang gak beraturan dan sangat berbahaya bagi para pelancong, apalagi banyak wanita dan anak-anak yang kurang begitu sigap menapaki bebatuan karang. Kami sangat heran mengapa Pemerintah Daerah Kota Denpasar tidak membuat Dermaga yang refresentatif dan indah sehingga membuat nyaman dan aman para pengguna jasa tentunya. Padahal menurut pengamatan kami kunjungan pelancong sangat ramai ke Nusa Penida, Lembongan dan ke Gili Trawangan. Kami yakin tidaklah akan merusak kawasan dan pemandangan pantai jika hanya untuk pembuatan Dermaga. Dan sangat memungkinkan pihak swasta akan dengan semangat jika diijinkan untuk membuat Dermaga secara berkolaborasi misalnya.

Foto by (Gde Nogata)
Foto by (Gde Nogata)
Foto by (Gde Nogata)

Setelah sampai di Dermaga Nusa Penida yang bersih dan refresentatif Leader Guide kami memastikan rombongan untuk berkumpul di Lounge Dermaga untuk diberikan berbagai informasi berikutnya. Setelah beres kemudian berkoordinasi dengan pihak Transportation service Tour dengan lima mobil mini bus AVP. Sebelum naik ke mobil, kami sempat memperhatikan situasi di sekitar Dermaga – sangat tidak refresentatif, terkesan sangat kumuh dan tidak tertata, sebagai obyek wisata, padahal para pelancong notabene berduit – bukan seperti Pelabuhan Rakyat.

Begitu semua naik mobil, perjalananpun dimulai dengan para sopir yang nampaknya sudah pada berpengalaman dan profesional dalam menjalankan kendaraan mengangkut tamu. Kebetulan driver yang membawa kami sebagai Leader Guide menuju obyek-obyek wisata yang kami kunjungi. Jalanan ternyata tidak semuanya beraspal mulus, sehabis aspal kemudian memasuki jalanan off road – boleh dibilang lumayan ekstrem, berdebu karena pas musim kemarau. Kondisi alam yang dilalui juga berbukit-bukit batu cenderung gersang.

Foto by (Gde Nogata)

Nampak jelas terasering ladang atau tegalan gersang dibuat pematang dari bebatuan oleh penduduk setempat agar bila musim hujan dapat mengurangi erosi. Perjalanan agak monoton dan sering berguncang-guncang, pemandangan kurang menarik perhatian. Untuk mengalihkan perhatian jalanan yang monoton, kamipun ngobrol dengan driver yang lumayan ramah dan penuh perhatian serta kesabaran – menceriterakan atau tepatnya berkeluh kesah bahwa merekapun sebenarnya menginginkan agar Pemerintah Daerah memperbaiki infrastruktur jalan yang merupakan akses utama perjalanan ke berbagai obyek wisata di kawasan Nusa Penida. Padahal bila infrastruktur jalan memadai tentu sangat ramai dan padat para turis berkunjung ke Nusa Penida, dapat limpahan ekstra pelancong yang ke Bali ke Nusa Penida. Sehingga berpotensi peningkatan perekonomian di Nusa Penida.

Obyek Wisata pertama yang kami tuju adalah Tanjung Kelingking merupakan wilayah desa Karangdawa. Begitu sampai kelihatan suasana parkir kendaraan dan pondok-pondok sederhana, beberapa toilet lumayan terjaga kebersihannya, tapi menurut kami mesti dibuat lebih higienislah, karena pengujungnya juga orang-orang berada/mapan, bukan pelancong pedesaan.

Foto by (Gde Nogata)
Foto by (Gde Nogata)

Saat perhatian menuju ke bibir tebing ternyata begitu ekstrem dan perlu ekstra hati-hati berjalan. Jalanan tebing curam berpagar kayu walau cukup kuat tetapi tidak menjamin keamanan. Itulah Pantai Tanjung Kelingking yang bentuknya sangat indah menakjubkan tidak merasa bosan untuk mengamatinya. Rasa ngeri – takut, was-was bercampur dengan pemandangan alam nan eksotik.

Foto by (Gde Nogata)

Terutama di bawah sekitar 20an meter nampak para pengunjung seperti butiran beras, ada yang berjalan di punggung batu karang yang menjorok ke laut bebas nan luas yaitu Samudera Hindia/Indonesia. Adapula yang berjalan di bawah batu karang pantai berpasir putih bersih berpadu dengan air laut yang jernih menggoda untuk berenang bebas, sebebas-bebasnya…….oh indahnya pantai Tanjung Kelingking, eksotis eeeei!!!

Foto by (Gde Nogata)

Karena dibatasi oleh waktu yang amat padat, maka kamipun berfoto Group dengan bentangan Spanduk Peserta rombongan tour sebagai bukti nyata mengunjungi Pantai Tanjung Kelingking. Beberapa dari rombongan ternyata sudah ada yang merasa lapar minta makan….wah….wah… akhirnya kami sebagai Pemandu bersama Leader Driver pun setuju untuk melanjutkan perjalanan mencari tempat makan yang telah disepakati. Namun dalam perjalanan lanjutan kali ini, karena sudah lewat Jam 12.00 maka jalananpun macet berkepanjangan – maklum off road.

Foto by (Gde Nogata)
Foto by (Gde Nogata)
Foto by (Gde Nogata)

Nah di sini kami perhatikan para driver mencoba berkoordinasi demi kepentingan bersama, mereka saling urun solusi dan kerjasama sehingga tidak sampai 30 menit bisa lewat dari cengkeraman macet, maklum jalanan sempit, ektrem berdebu dan berbatu.

Setelah sampai di ujung jalan yang agak tinggi posisinya kamipun masuk ke Restoran untuk makan siang bersama rombongan tour, dan ternyata dalam hitungan menit pengelola restoran sudah siap dengan sajian prasmanan, walau tampaknya kurang mengesankan dari segi layanan serta harga, namun pemandangan yang demikian menakjubkan mengarah ke Broken Beach, maka dengan serentak pula karena memang sudah lapar kami makan…..dan dalam hitungan menit hidangan pada ludes. Sambil jepret sana sini dan ada yang selfie…..selfie…. perjalananpun dilanjutkan menuju obyek wisata berikutnya yaitu Angel Beach dan Broken Beach.

Beberapa saat kemudian di bawah teriknya matahari kamipun tiba di Kawasan Pantai Angel Billabong dan sangat berhimpitan dengan Broken Beach yang mana nama-nama tersebut diberikan karena bentuk dan kondisi alam pantai yang kami jumpai, memang sangat romantis dan eksotis……wouw….. di sekitar daratan Bali memang gak ada. Terutama di Angel Billabong Beach malah ada tamu bule bersama pasangan masing-masing berenang tanpa hiraukan tamu domestik lainnya. Inilah rupanya surga baginya, karena situasinya sangat sepi dan romantis. Rombongan kamipun tak henti-hentinya jeprat-jepret kamera smartphone masing-masing. Pokoknya seru banget deh!!! Panas yang begitu terik terobati oleh alam indah dan rimbunan pepohonan khas pantai. Jalanan setapak memang kami akui bersih, dibeton sedemikian rupa dan berundak. Di bibir pantai deburan ombak berbuih putih saling berkejaran menghempas pantai dan batu karang hingga bentuknya seperti dipahat gak beraturan tangan raksasa…..wuih …luarbiasa!!!

Foto by (Gde Nogata)
Foto by (Gde Nogata)
Foto by (Gde Nogata)

Melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak dengan menuju obyek pantai berikutnya, yaitu tebing curam yang begitu dalam namun airnya tenang sehingga nampak seekor ikan pari hitam melayang-layang mengejar makanan begitu takjub mata menyaksikan. Di ujung kelihatan batu karang bolong mengarah ke laut lepas. Nah di sinilah banyak yang selfie atau tepatnya dibantu orang lain atau temannya untuk mengambil gambar dengan menaiki pepohonan yang telah dirangkaikan dengan ranting kayu sebagai pijakan agar dapat mengambil gambar dari arah atas – luar biasa eksotislah background alam.

Foto by (Gde Nogata)

Perjalanan berikutnya menuju Pantai Crystal Beach yaitu kembali menyusuri jalanan off road berbatu dan berdebu. Sepanjang jalanan juga berguncang-guncang namun karena hari sudah hampir sore, panasnya sudah berkurang, dan menurut driver perjalanan akan ditempuh kurang lebih 45 menit, wah…….hampir satu jam-lah, lumayan lama. Guna mengalihkan perhatian dari monotonnya jalan off road berdebu, kami kembali saling curhat berbagai hal obrolan ringan tentang kondisi pariwisata Nusa Penida dan hal ihwal potensi pendukungnya. Tidak terasa driver Bapak Putu Suarjana langsung mengatakan bahwa obyek Wisata Crystal Beach sudah hampir sampai.

Foto by (Gde Nogata)
Foto by (Gde Nogata)
Foto by (Gde Nogata)

Begitu memasuki hamparan pohon kelapa nan teduh dan arealnya yang berpasir lembut serta angin semilir khas pantai, kamipun bergegas turun dari mobil menuju pantai – penasaran dengan sebutannya Crystal Beach. Eh….ternyata situasinya memang tenang dan damai, terlihat dari para tamu yang beraktifitas di Pantai. Pasirnya hitam berkilauan yang disebutkan bagaikan crystal. Hal ini menurut kami wajar kelihatan tenang, karena terkesan sunyi dan damai yang memang digandrungi oleh tamu asing, yang notabene sangat mereka sukai. Kamipun tidak menyia-nyiakan momen untuk jepret sana jepret sini, dan rombongan banyak yang berselfie ria – bahkan mereka kelihatan betah berlama-lama didukung oleh semilirnya angin pantai.

Yang membuat kami kagum adalah muncul babi-babi lokal yang gemuk bulat berwarna hitam sangat kontras dengan alam terpencil. Mengingatkan Daratan Pulau Bali tahun 1970-an, ketika kami masih anak-anak, di mana di setiap rumah penduduk Bali pasti memelihara babi, sebagai hewan piaraan potensial dan seperti wajib.

Foto by (Gde Nogata)

Ah….masa lalu memang mengundang pesona tersendiri. Dan yang lebih mengesankan adalah para tamu bule banyak kami perhatikan pakai motor (sewaan), mondar-mandir berboncengan bersama pasangan masing dengan pakaian seadanya turut meramaikan jalanan off road berdebu. Ternyata mereka memang menginap di berbagai penginapan yang di Nusa Penida, yang betul-betul terjaga keamanannya, yang sangat tidak memungkinkan ada di tempat lain selain di Bali plus pulau-pulau bagian dari Bali daratan. Inilah Bali – Pulau kecil yang begitu mempesona bagi dunia Internasional, kami sudah lihat sendiri bahwa Nusa Penida sangat layak divermak lebih optimal agar mampu mengundang kunjungan para wisatawan manca negara maupun domestik lebih signifikan. Sehingga ke depannya dapat menopang perkembangan perekonomian masyarakat setempat menjadi lebih layak dan sejahtera. Dan bagi Bali daratan tentu akan menambah destinasi yang potensial sebagai wisata petualangan yang mengesankan, Amazing Adventure Tour !!!

Foto by (Gde Nogata)

Karena waktu semakin mepet menuju senja dan rupanya sudah dihubungi oleh pihak Kapal di Dermaga, maka kamipun mesti segera naik ke mobil menuju ke Dermaga karena sesuai jadwal, tepat jam 16.30 Wita harus kembali ke daratan Bali. Perjalanan off road sudah kami gak hiraukan lagi, eh…..ternyata gak begitu lama nampak jalan aspal yang saat pertama dilalui pun mobil meluncur lebih cepat…….horeeeee kami tiba kembali di titik awal, dermaga yang bersih Nusa Penida. Setelah rombongan genap semua dan penumpang lain memegang tiket balik, kamipun diinstruksikan menaiki Fast Boat Duta II, kamipun kembali menyusuri luasnya laut biru lepas – meluncur menuju pantai Sanur. Tentu saja banyak kesan eksotis kami rasakan dalam petualangan Trip ke Nusa Penida……sampai ketemu di lain waktu……..salam pariwisata, semoga ke depan nantinya Nusa Penida lebih indah dan nyaman untuk diobservasi, sebagai destinasi wisata lanjutan setelah kunjungi Bali, bahkan wajib. Namaste !!!

(by Gde Nogata – TripEvenBali).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *