Jelajah Wisata Alam – Atambua (NTT)

Avontur

Atambua

Oleh : Saiful Rijal Yunus

Harian Kompas – Minggu, 3 September 2017

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Padang Sabana Fulan Fehan.

Atambua adalah kepingan zamrud di ujung negeri. Di sini kita dapat mengkhidmati alam di padang sabana yang menenteramkan, merasakan energi bebas dari kuda-kuda liar yang berkeliaran, atau menatap merahnya mentari yang tenggelam di ufuk barat. Jangan lupa bertamulah ke rumah-rumah penduduk yang siap menyambut dengan senyum lebar dari bibir kemerahan.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Matahari terbenam di Pantai Sukaerlaran, Atapupu.

Atambua memang menyimpan sejuta pesona. Setiba kaki menginjak di Bandara AA Bere Talo di Haliwen, Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, awal Agustus lalu, tak sabar rasanya segera menjelajah salah satu wilayah yang berbatasan dengan negara Timor-Leste ini. Di bulan Agustus ini, suasana kemerdekaan terasa lekat meski kelamnya perang saudara pernah hinggap di sini.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN PLBN Mota’ain.

09.00 WITA PLBN Berjarak 24 kilometer dari pusat kota Atambua, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, Desa Silawan, Tasifeto Timur, dengan mudah ditemukan. Pintu gerbang besar, bangunan megah, lengkap dengan tulisan PLBN Motaain menjadi daya tarik untuk berswafoto. Sekitar 500 meter dari gerbang terakhir adalah pintu gerbang memasuki negara tetangga, Timor-Leste.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Kolam Susuk

PLBN yang rata-rata dilintasi 150 orang setiap hari ini memang menjadi obyek wisata baru. Mereka yang datang ke Atambua selalu menyempatkan diri berkunjung ke PLBN. Selain bangunan yang megah, “mengintip” wilayah Timor-Leste adalah sebuah nilai lebih saat berkunjung ke pos ini. Jangan lupa menyapa saudara-saudara kita dari Timor-Leste yang menyeberang ke Indonesia.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Pojok Mak Onah

14.00 WITA Teluk Gurita Tidak jauh-jauh dari PLBN Motaain, sekitar 15 menit berkendara melintasi pesisir, Teluk Gurita bisa dijumpai. Menurut cerita masyarakat, di tempat ini berdiam gurita raksasa yang bisa menenggelamkan kapal. “Itu cerita turun-temurun di masyarakat sini, tapi di sini memang banyak gurita. Kalau air surut, bisa nangkap,” kata Godlief, sopir sekaligus pemandu kami.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Penenun di Kampung Haliwen.

Di ujung jalan terdapat dermaga penyeberangan laut menuju Alor. Laut yang jernih, dan berpasir, menjadi pemandangan yang menyejukkan di dermaga ini. Namun, selain itu, naik ke bukit di jalan menuju dermaga ini patut dicoba. Dari atas bukit dengan ilalang ini mata bebas memandang ke seluruh penjuru teluk. Siap-siap berpanas-panas ria saja, ya.

15.00 WITA Kolam Susuk Tahukah Anda asal lagu “Kolam Susu” milik Koes Plus yang terkenal itu? Masih berada di kawasan Teluk Gurita, sebuah tempat diberi nama “Kolam Susuk”. Ya, masyarakat Atambua sangat percaya bahwa lagu tersebut tercipta setelah Koes Plus berkunjung ke tempat ini. Meski begitu, dari sejumlah pemberitaan, Yon Koeswoyo menyampaikan bahwa lagu itu terinspirasi dari kekayaan laut Indonesia.

Lupakan soal itu, tapi nikmati saja pemandangan di Kolam Susuk. Tambak yang cukup luas seperti danau berair hijau, pepohonan yang rindang, dan angin berdesir halus adalah pesona yang menghanyutkan di tempat ini. Jangan lupa memutar lagu “Kolam Susu”, menghayati kayanya alam Indonesia. “Bukan lautan, hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu….”

17.00 WITA Pantai Atapupu Senja di Pantai Atapupu serupa tempat paling tepat untuk memanjakan mata dan perasaan. Di pantai berpasir putih dan ditumbuhi pohon-pohon ini, mentari memerah di batas horizon. Langit merah, jingga, kuning, dan ungu adalah gradasi warna yang hadir di cakrawala saat mentari perlahan tenggelam. Senja di timur Indonesia memang memberi kesan yang tidak biasa-biasa saja. Langit yang bersih dan udara yang belum terpapar polusi menjadi berkah tersendiri. Untuk mencapai pantai Atapupu ini, sebaiknya sehabis mengunjungi Teluk Gurita atau PLBN Motaain. Sebab, pantai ini terletak di antara kedua tempat tersebut.

11.00 WiTA Tenun “Selamat siang. Silakan masuk,” ucap Afia Maria (19) riang, sembari melanjutkan tenunannya. Afia menenun kain bercorak Timor dengan warna hitam yang dominan, berpadu kuning, oranye, dan sedikit hijau. Telaten, dia menjalin satu demi satu benang berwarna-warni hingga menjadi kain yang cukup untuk satu setel pakaian. Setelah jadi, kain tenun itu akan dijual di pasar dekat rumahnya di Desa Kabuna, Kakuluk Mesak.

Tidak susah untuk menemukan tenunan khas Timor di Atambua. Desa Kabuna, misalnya, hanya ditempuh sekitar 10 menit berkendara dari Atambua. Di rumah-rumah warga, Anda akan disambut dengan senyum hangat, sapaan riang, bahkan anak-anak akan mencium tangan. Selain mendapatkan harga kain yang jauh lebih murah, rasa hangat persahabatan yang tulus dari warga akan menjalar di hati. Percayalah.

15.00 WITA Fulan Fehan Seperti apa padang rumput yang luas serupa lapangan golf di puncak bukit? Dengan kuda-kuda liar yang mencari makan, dan telaga-telaga kecil yang memantulkan birunya lagit? Ya, itulah Fulan Fehan, padang luas yang berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut.

Hanya saja, untuk mencapai tempat ini memang tidak mudah. Setelah berkendara dua jam lebih dari Atambua ke Kecamatan Lamaknen, butuh beberapa kali bertanya kepada warga hingga jalan kecil menuju Fulan Fehan kami temui. Jalan berbatu dan menanjak membuat perjalanan dengan mobil berakhir, dan harus dilanjutkan dengan jalan kaki. Jalan menanjak sekitar satu kilometer harus ditempuh. Untuk bernapas terasa begitu berat.

Namun, begitu mata menyapu puncak bukit, kelelahan itu terbayar lunas. Siluet barisan kuda-kuda di atas bukit yang sedang merunduk mencari makan adalah pandangan pertama yang membuat siapa saja jatuh cinta kepada tempat ini. Semilir angin Gunung Lakaan bertiup sejuk mengisi penuh paru-paru. Inilah Fulan Fehan, sekeping surga di atas bukit.

19.00 WITA Pojok Mak Onah Tidak lengkap ke Atambua tanpa mencicipi jajanan khas kota ini. Malam di Atambua ramai, terlebih di Lapangan Umum Atambua. Di pojok lapangan, aroma harum tercium dari tungku bakaran milik Pojok Mak Onah.

Pembeli antre untuk mendapatkan fehuk kukus dan akabilan. Fehuk kukus adalah olahan dari ubi kayu, dicampur kelapa dan gula, sedangkan akabilan adalah sagu panggang yang dimakan dengan ikan teri. Nikmati kudapan ini dengan berbincang dan bercengkerama bersama Mak Onah, pemilik kedai yang ramah kepada siapa saja. Menyesapi Atambua yang membekas di hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *