Wisata Kuliner – Solo

Cintaku di Warung Kombo

Oleh : Yuniadhi Agung

Harian Kompas – Minggu, 6 Agustus 2017

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Warung Kombo

Danang (34) selalu bersemangat jika makan di Warung Kombo. Di warung ini, dia menemukan cinta dan hingga kini terus merawat cintanya. Warung makan yang terletak sekitar 500 meter arah selatan dari Stasiun Kereta Api Solo Balapan, Jawa Tengah, ini mendapat posisi istimewa bagi Danang.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Warung Kombo

Danang hanyalah salah satu dari banyak pengunjung yang punya kenangan di Warung Kombo. Pada awal tahun 2000-an, saat dia masih sekolah di sebuah SMA yang terletak di dekat Warung Kombo, dia bercerita bahwa saat itu ada seorang gadis yang dia taksir. Dia membawa oleh-oleh menu masakan Warung Kombo saat mulai mendekatinya dan kemudian juga mengajak si gadis makan di Warung Kombo. Kisah tersebut berakhir indah, Danang kini menjadi suami gadis tersebut.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Teh Kampul

Warung Kombo adalah warung yang menjadi bagian dari perjalanan kuliner kota Solo. Jika saat ini kota Solo lebih populer dengan wisata makan malamnya, seperti nasi liwet, angkringan, dan bestik, Warung Kombo adalah sekelumit kisah tentang tempat mengganjal perut pada siang hari. Berada di Jalan Batang, sebuah jalan kecil di kawasan perumahan di Kelurahan Ketelan, Banjarsari, Warung Kombo “nyempil” di antara deretan rumah warga.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Sebagian menu Warung Kombo

Sejak mulai berjualan pada akhir tahun 1980-an, Warung Kombo awalnya adalah tempat singgah para pelajar seusai pulang sekolah. Saat beranjak kuliah, para remaja tersebut tetap datang ke Warung Kombo dan juga mengajak teman kuliah yang berasal dari daerah lain untuk menikmati hidangan di Warung Kombo. Pada pertengahan tahun 1990-an, misalnya, banyak mahasiswa dari kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta yang menyempatkan jajan di warung ini, meski tempat tersebut berjarak sekitar lima kilometer dari kampus mereka. Seiring dengan waktu, Warung Kombo tidak ditinggalkan, tetapi justru selalu ingin disinggahi, terutama bagi mereka yang pernah merasakan kehangatan di tempat tersebut.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Nasi Terik Sambal

Warung Kombo bukanlah sebuah warung yang sekadar tempat menghilangkan lapar. Warung ini ibaratnya rumah tempat kita selalu disambut. Mbak Nungki, generasi kedua pengelola Warung Kombo, selalu menyambut pembeli dengan senyuman ramah. Obrolan-obrolan kecil dan terkadang tidak penting yang dilontarkan Nungki membuat pembeli nyaman. Keramahan bukan hanya di dalam warung, bahkan sudah berawal dari tempat parkir. Saat singgah dengan menumpang mobil, ibu juru parkir membantu membuka pintu mobil dan mempersilakan masuk ke warung. Sebuah sikap yang tidak dibuat-buat.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Peyek Tempe

Tentu saja, jika ada yang membuat orang selalu kembali lagi ke sebuah tempat makan, pasti ada hidangan yang digemari. Makanan favorit di Warung Kombo adalah nasi terik sambal. Nasi putih yang dibungkus daun pisang dengan lauk potongan daging sapi dan dibubuhi sambal matang. Daging sapi sebagai sajian utama dimasak dengan bumbu terik, bumbu yang mirip dengan bumbu opor, tetapi lebih encer kuahnya. Daging dimasak hingga kuahnya mengering dan bumbu meresap. Rasa daging sapinya gurih dan manis. Saat disantap yang terasa adalah hidangan yang “wani bumbu” (bumbunya pas dan beragam). Untuk lebih memuaskan, terik daging ini didampingi oleh sambal matang dengan rasa pedas yang nendang, tetapi diimbangi oleh rasa manis yang tersembunyi. Sebuah kolaborasi rasa yang unik dan nikmat. Dulu orang cukup menyantap dua bungkus nasi terik sambal, tetapi sekarang porsinya lebih kecil sehingga supaya kenyang, perlu lebih dari itu.

Selain nasi terik sambal, ada pilihan menu lain seperti nasi bandeng, nasi sambal teri, nasi penyet tempe, dan nasi oseng. Semua dibungkus dengan daun dan kertas, seperti umumnya hidangan angkringan. Aneka lauk tambahan bisa dipilih dan tersaji di meja. Ada sate telur puyuh, bakwan goreng, tempe dan tahu bacem, serta jamur tempung goreng.

Jika menggemari jeroan sapi, menu sate koyor bisa jadi pilihan. Sate koyor adalah sajian potongan koyor (salah satu bagian urat sapi) yang dirangkai dalam tusukan sate. Di kota Solo, koyor menjadi makanan yang digemari dan umumnya menjadi campuran masakan sambal tumpang atau lauk pelengkap gudeg. Karakter sate koyor ini kenyal, tetapi tidak alot karena dimasak cukup lama. Koyor dimasak dengan bumbu bacem sehingga rasanya manis. Buat yang belum pernah merasakan koyor, hidangan ini adalah sebuah petualangan rasa.

Jika kita cukup konservatif terhadap rasa, lauk rolade tahu bisa memenuhi selera lidah kita. Tahu dihaluskan dan dicampur dengan potongan rebusan daun singkong. Rolade goreng ini terasa gurih dan renyah. Keripik tempe juga menjadi favorit. Tempe dipotong tipis dan digoreng kering sehingga renyah. Bumbunya tidak terlalu asin sehingga nikmat disantap dalam jumlah banyak. Keripik tempe ini nikmat disantap saat keluar dari penggorengan ataupun dibawa pulang. Mbak Nungki bercerita bahwa keripik tempe ini sering dikirim ke luar kota atas permintaan pelanggan yang sekarang tinggal di kota lain. Proses menggoreng tempe yang pas membuat keripik tempe tersebut tidak mudah melempem.

Variasi nasi bungkus dan lauk membuat pembeli bebas menentukan selera mereka, juga membuat pelanggan tidak cepat bosan. Seperti warung-warung lainnya, minuman teh menjadi pelengkap makanan. Teh kampul adalah salah satu minuman yang banyak dipesan. Pada dasarnya, ini adalah minuman teh yang dicampur yang irisan buah jeruk. Jika umumnya yang dipakai adalah lemon atau jeruk nipis, tetapi di sini yang dipakai adalah jeruk peras dengan rasa yang manis. Teh jeruk ini rasanya agak masam dan cenderung membuat teh berbau sedikit basi, tetapi saat diminum menyegarkan. Potongan jeruk dimasukkan ke air teh dan terlihat mengambang (kampul-kampul). Teh kampul nikmat diminum hangat atau dingin.

Warung Kombo adalah salah satu contoh usaha kuliner kecil yang tidak hilang dengan berjalannya waktu. Mereka hanya perlu menambah sajian lauk yang saat ini digemari, seperti sate sosis atau sate nugget ayam (agar kekinian, nama Warung Kombo pun diubah menjadi Waroeng Combo). Satu hal yang tidak bisa hilang adalah rasa cinta yang melekat di warung, sajian menu yang dimasak sepenuh hati dan nikmat, serta keramahan yang selalu dikenang dan akan membuat kita kembali. Dan cinta itu berasal dari sebungkus nasi terik sambal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *