Jelajah Pedalaman Bali

Menjelajah Keindahan Pedalaman Bali dengan Motor Klasik Royal Enfield

Oleh : Iwan Santosa

Kompas Minggu, 28 Agustus 2017

KOMPAS/IWAN SANTOSA Berbagai jenis sepeda motor bergaya klasik Royal Enfield siap mengantarkan wisatawan menelusuri keindahan jalur-jalur pedesaan di pedalaman Bali. Motor-motor ini terlihat parkir di toko khusus Royal Enfield di kawasan Sunset Road, Kuta, Bali, Sabtu (26/8) lalu.

Beragam atraksi wisata dikembangkan di Bali yang menjadi salah satu tujuan wisata dunia. Salah satu ide baru itu adalah menikmati keindahan Bali dengan berkendara motor klasik asal Inggris, Royal Enfield, melalui rute pedesaan dan pedalaman Bali yang masih jarang dikenal.

Motor yang dibuat di Inggris sejak tahun 1901 itu kini hadir dipasarkan di Denpasar, Bali, dengan toko ekslusif Royal Enfield yang juga menjual pernak-pernik pecinta motor antik.

Sepanjang Sabtu (26/8), 10 sepeda motor Royal Enfield jenis Klasik dan Bullet menjelajahi Bali dengan rute pertama Denpasar–Sanur–Semarapura di Klungkung lalu ke Karang Asem dan Pura Besakih yang diakhiri menikmati pemandangan di Penelokan di atas Kintamani dan Danau Batur melihat kawah Gunung Batur.

Motor dengan kapasitas mesin bervariasi 350 cc dan 500 cc itu menderu melalui jalan utama dan jalan-jalan pedesaan dengan nyaman dan sopan tanpa bunyi knalpot menggelegar yang mengganggu.

KOMPAS/IWAN SANTOSA Perjalanan dengan motor bergaya klasik Royal Enfield, Sabtu (26/8), melewati jalur-jalur pedesaan di pedalaman Bali yang berpemandangan indah dan masih jarang dilalui wisatawan.

Tahap akhir perjalanan dilakukan dari Penelokan ke Plaga menyusuri jalur sawah di sebelah Ubud hingga kembali ke Sunset Road, Kuta, tempat toko eksklusif Royal Enfield berada.

Direktur Bisnis Internasional Royal Enfield Arun Gopal, dalam penyambutan rombongan media, mengatakan, yang ditawarkan Royal Enfield bukanlah kegagahan, kecepatan, tetapi kenikmatan berkendara dan kenikmatan menyatu dengan alam sekitar. ”Bali ini pusat wisata dunia. Ada banyak kegiatan bermotor di sini. Yang kami tawarkan bukan saja keindahan di tempat tujuan wisata, tetapi juga keindahan dari sepanjang perjalanan itu sendiri,” kata Gopal, yang sudah berulang kali datang ke Indonesia dan Bali. Strategi sama diterapkan Royal Enfield di India dengan menjual paket wisata perjalanan ke Himalaya dan keliling India. Ekspedisi Himalaya mulai digelar Royal Enfield sejak tahun 1997 dan kini diikuti peserta dari berbagai penjuru dunia.

Meraih pasar Dia optimistis, Royal Enfield yang sejak tahun 1955 mulai diproduksi sebagian di India dan kini sebagian besar produksi dilakukan di Chennai, India, akan mendapat pasar khusus di Indonesia, Thailand, dan Asia Tenggara. ”Perkembangan kelas menengah di Indonesia dan Thailand itu sangat penting. Mereka juga menikmati taraf hidup yang berkembang, termasuk dalam hal berkendara,” kata Gopal, yang berasal dari negara bagian Kerala, di selatan India. Penjualan dan penyewaan Royal Enfield di Bali diharapkan dapat memenuhi gagasan menikmati keindahan alam dengan berkendara di Bali-Lombok dan sekitarnya.

Ferry Kana yang memandu perjalanan dengan motor klasik Royal Enfield 500 mengatakan, motor klasik seperti Royal Enfield ada untuk kenikmatan berkendara. ”Ini bukan motor untuk ngebut. Kalau jalan santai dan menikmati alam sekitar sangat cocok. Apalagi, jalanan di Indonesia sempit. Namun, kalau dipakai ngebut saya pernah melampaui 130 kilometer per jam di jalanan pantura Jawa dengan Royal Enfield,” kata Ferry.

KOMPAS/IWAN SANTOSA Sepeda motor bergaya klasik Royal Enfield adalah sepeda motor yang dibuat di Inggris sejak 1901, tetapi sejak 1955 mulai diproduksi di India hingga kini.

Ferry wanti-wanti mengingatkan peserta rombongan untuk tidak menerobos lampu merah ataupun ngebut sembarangan. Sebab, inti perjalanan adalah menikmati motor klasik dengan pemandangan alam yang diakhiri dengan bercengkerama di tempat tujuan wisata.

Raju Bastian dan Benny Suryakusumah, wartawan kawakan bidang otomotif, juga mengingatkan hal yang sama, sensasi motor klasik adalah di perjalanan, getaran mesin, dan tenaga torsi mesin silinder tunggal yang tidak kehilangan tenaga saat dikendarai naik-turun di pegunungan menuju Penelokan.

Getaran yang dimaksud memang khas motor klasik Inggris seperti Triumph, Norton, BSA. Royal Enfield pun terasa adanya getaran dan dentuman-dentuman kecil serta desingan mesin saat putaran gas ditambah. ”Kalau mau merasakan sensasi asli motor Inggris tahun 1940 dan 1950-an ya motor seperti ini. Akan lebih orisinil kalau knalpot diganti dan sistem injeksi bahan bakar diganti karburator seperti aslinya Royal Enfield tahun 1940 dan 1950-an,” kata Benny Suryakusumah.

KOMPAS/IWAN SANTOSA Sepeda motor bergaya klasik Royal Enfield adalah sepeda motor yang dibuat di Inggris sejak 1901, tetapi sejak 1955 mulai diproduksi di India hingga kini.

Patrick Merhot, pria asal Normandia, Perancis, yang sudah 15 tahun berada di Indonesia, mengatakan sengaja datang mencegat rombongan di dekat Pura Batur karena ingin menikmati riding bersama . ”Saya kenal merek ini sejak di Eropa. Tahun lalu ketika Royal Enfield masuk Indonesia saya langsung beli. Inilah motor yang saya pakai,” kata Merhot, pensiunan AL Prancis yang kini tinggal di Tampak Siring, Bali.

Seusai peresmian toko cenderamata dan show room Royal Enfield, Arun Gopal mengatakan, tokonya terbuka untuk semua komunitas motor dan tidak terbatas pada pengguna mereknya. ”Yang kami bangun adalah kebersamaan sesama pengendara dan tentu saja filosofi menikmati perjalanan dalam hal ini keindahan Bali dan Lombok ke mana pun mata memandang,” kata Gopal. (ONG)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *