Seniman Legendaris Ketut Rina

Sesari Tari

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG (MYE) Rumah I Ketut Rina, penari kecak di kawasan Gianyar, Bali.

Ungkapan klasik ”sejauh-jauh burung terbang akhirnya pulang ke sarang” berlaku bagi I Ketut Rina (50).

Sejak usia 11 tahun ia sudah keliling Eropa bersama rombongan penari Dongeng dari Dirah pimpinan koreografer kawakan Sardono W Kusumo. Sejak itu, karma hidup Rina tak jauh-jauh dari menari.

Pada sore hari, lelaki berambut gondrong itu acap kali terlihat nongkrong di tepi jalan. Selain juntaian rambutnya melewati bahu, kumis dan jambangnya yang tumbuh liar menambah sangar tampangnya. Wajah Ketut Rina sering membuat orang-orang salah duga: preman atau seniman? Predikat itu hanya dibatasi selaput tipis yang mudah tembus pandang. Jadi, bisa seniman, bisa juga preman. Ha?

Suatu kali ia harus terbang seorang diri ke New York, Amerika Serikat, pasca tragedi 11 September 2001. Lantaran tampangnya dianggap mencurigakan, pihak imigrasi bandara setempat menginterograsinya selama tiga jam. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas, Rina menjelaskan bahwa ia penari dan bukan teroris. Rupanya penjelasan itu tak meyakinkan para interogatornya. ”Saya sebut dancer mereka tak yakin. Setelah lama baru ingat sebut kecak, lalu mereka semua tertawa, ha-ha-ha” kata Rina, Rabu (2/5/2018), di rumahnya, di Banjar Teges Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar.

Sejak itu Rina sadar bahwa kata Bali ”kecak” jauh lebih sakti dari kata Inggris ”dancer”. Kalau ia menyebut kecak, semua orang spontan senyum lalu kompak mengangkat tangan tinggi-tinggi. Bentuk kesenian yang membutuhkan kekompakan kolektif bernama tari kecak inilah yang diwarisi Rina dari Sardono W Kusumo.

Bangun sarang Setelah kedatangan Sardono di Banjar Teges Kanginan pada awal tahun 1970-an, Rina dan warga banjar membentuk kelompok kecak yang diberi nama Cak Rina. Kelompok inilah yang menjadi perintis sinergi antara kecak dan tari api. Dalam balutan lakon Subali-Sugriwa, Rina selalu mengakhiri pertunjukannya dengan perang api di antara pasukan kera. Sebuah akhir spektakuler di mana permainan api menyulut kengerian, keberanian, dan keindahan dalam waktu bersamaan.

Ketika pulang dari Eropa bersama rombongan Dongeng dari Dirah pada 1974, Rina kecil membawa sejumlah uang. Pada usia sekecil itu, 11 tahun, Rina mulai memikirkan membangun sarang di desanya. Ia mulai mengumpulkan serpih-serpih batu bata, pasir, semen, kayu, dan genteng. ”Pokoknya saya kumpulkan satu per satu seperti burung buat sarang, he-he-he,” kata lelaki yang penuh tawa ini.

Rina ingin membangun rumah yang layak bagi seluruh keluarganya. Di masa kecil, orangtuanya hanya mampu membangun rumah popolan (bangunan dari tanah) untuk tujuh orang anggota keluarga. Ayahnya, I Wayan Kencan, dan ibunya, Ni Made Karti, hanya para petani sederhana di desa. Tak banyak yang bisa diharapkan untuk menyambung hidup.

Rina kemudian memanggil tukang bangunan. Cita-citanya membangun rumah sesuai dengan pola pembagian ruang dalam tradisi Bali yang disebut Asta Kosala Kosali. Bangunan pertama yang ia bangun adalah bale meten sepanjang 12 meter dengan beberapa kamar di dalamnya. ”Semuanya dari uang hasil menari keliling Eropa bersama Mas Don (Sardono),” kata Rina. Sejak itu, Rina seperti sadar bahwa jalan hidupnya menjadi penari. ”Tari itu sesari, inti dari penghayatan terhadap hidup yang diekspresikan lewat tubuh. Maka, rumah buat saya sesari dari tari itu sendiri,” ujar Rina. Filosofi ini yang mengantarkan Rina menempuh pendidikan tari di ISI Denpasar sampai selesai pada tahun 1991.

Seperti robot Kepergiannya ke Eropa di waktu kecil seolah membuka gerbang kepergian berikutnya. Rina kemudian lebih banyak menari dengan berkeliling dunia, baik sendiri maupun bersama rombongan. Sampai kini ia masih memiliki kontrak dengan satu rombongan teater di Tokyo, Jepang. ”Kalau sudah ke Tokyo, bisa sampai tiga bulan. Saya hidup seperti robot, ha-ha-ha. Mereka sangat disiplin dalam latihan dan pertunjukan,” ujar anak keempat dari tujuh bersaudara ini. Seluruh hasil dari pengembaraannya menari di banyak negara, ia kumpulkan menjadi unggun rumah yang kini lengkap ia miliki. Rina melengkapi gugusan rumah berpola Bali dengan bale daja, bale dangin, dan bale dauh, serta merajan (pura keluarga). Di atas tanah seluas 12 are, selain bangunan-bangunan tadi, di bagian tengah, Rina juga melengkapinya dengan halaman di mana ia bisa berlatih menari bersama anak-anak Teges Kanginan. ”Sejak dulu sampai kini, Cak Rina selalu melibatkan anak-anak usia 9-14 tahun. Itu jadi ciri khas kami,” katanya.

Boleh dikata, tambah Rina, tari telah memberikan segalanya dalam hidup keluarganya. Semua bangunan dengan ornamen ukiran Bali dan Jepara yang ia gemari disusun sedikit demi sedikit. Tak jarang Rina sendiri benar-benar turun tangan untuk memasang batu bata satu demi satu. ”Ini semacam penghayatan atas hidup, saya harus punya sarang,” ungkapnya.

Ia paham sejauh-jauh mengembara, toh, akhirnya manusia rindu pada kasurnya sendiri. Sesederhana apa pun keadaannya, kasur tua lebih banyak menyimpan cerita ketimbang kamar gemerlap di berbagai hotel yang hanya ditempati satu-dua hari. ”Itu makanya saya selalu pulang. Bahkan, ketika berada jauh, pikiran saya selalu pulang,” kata Rina.

Ketika berpamitan, ada dua motor tua tersampir di gang sempit menuju rumah. Honda GL tahun 80-an dan motor Jialing berperawakan Harley. Keduanya menjadi sahabat setia Rina untuk menyusup ke desa-desa mengajarkan tari kecak kepada warga banjar. Ah, terkadang hidup memang butuh romantisisme agar senantiasa indah untuk dijalani.

Oleh : Putu Fajar Arcana

Kompas Minggu, 6 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *