UBUD

Perjalanan

Ubud

Oleh : Fransisca Romana Ninik

Harian Kompas, 29 April 2018

Pada bentang sawah dan perbukitan nan hijau, kawasan Ubud di Kabupaten Gianyar, Bali, menghamparkan tempat-tempat yang menawan. Di sepanjang jalan kecil yang berkelok naik dan turun, kekayaan alam dan budaya memikat pancaindra.

IWAN SETIYAWAN Bermain ayunan di sawah terasering Tegalalang

Menjelajahi Ubud, sekitar satu jam perjalanan dari Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, adalah petualangan dalam suasana yang lebih tenang. Hutan, sawah, pura, museum berseling dengan kafe dan restoran yang nuansanya kalem. Atmosfer tradisional kental terasa di sini.

FOTO-FOTO: KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Sawah Terasering Tegalalang

Wisatawan asing berbaur dengan turis domestik menikmati cuaca cerah dan panas di pertengahan April. Langit biru nyaris tanpa awan. Mereka berjalan kaki dengan santai, bersaing dengan lalu-lalang kendaraan yang mulai memadati ruas-ruas jalan.

IWAN SETIYAWAN Monkey Forest

Pukul 13.00 Monkey Forest

IWAN SETIYAWAN Pasar Seni Ubud

Suhu udara 32 derajat celsius seketika seolah turun beberapa derajat ketika kaki melangkah memasuki kompleks Mandala Suci Wenara Wana atau lebih populer disebut Monkey Forest. Tak hanya udara sejuk di bawah lingkup pepohonan hutan yang menyambut, monyet-monyet berekor panjang pun bermunculan.

Di dalam kompleks hutan, terdapat Pura Dalem Agung Padangtegal sehingga kawasan ini termasuk hutan yang dianggap suci. Ribuan monyet hidup damai, berdampingan dengan masyarakat yang hidup di sekitar hutan. Monyet dalam segala tingkah lakunya inilah yang menjadi atraksi menarik bagi wisatawan. Mereka memotret monyet yang makan pisang atau umbi-umbian, duduk-duduk, mencari kutu, bermain di pepohonan, bahkan yang tidur-tiduran. Pengunjung bisa membeli pisang di pintu masuk dan monyet pun akan segera menyerbu.

Pukul 15.00 Neka Art Museum Ubud adalah rumah bagi banyak museum seni. Salah satunya Neka Art Museum di Jalan Raya Sanggingan. Bangunan berasitektur khas Bali dengan halaman luas dan rimbun menyapa pengunjung.

Neka Art Museum didirikan tahun 1982 oleh Suteja Neka (78). Di dalamnya terdapat beragam koleksi lukisan, patung, dan pusaka kerajaan Bali yang dikumpulkan Neka sejak tahun 1960-an. Selain itu, museum ini juga menjadi tempat bagi berbagai aktivitas seni.

Neka Art Museum terbagi menjadi beberapa bangunan. Di dalamnya terdapat sejumlah koleksi yang dikelompokkan sesuai dengan nama pelukisnya. Misalnya, Paviliun Lempad, Paviliun Arie Smit, juga kumpulan karya perupa dalam dan luar negeri. Karya-karya tersebut terinspirasi dari keindahan alam, kehidupan, dan budaya Bali.

Pukul 17.00 Bukit Campuhan Sore hari adalah saat yang tepat untuk menapakkan kaki di Bukit Campuhan. Menjelang matahari tenggelam, lintasan memanjang di punggung bukit terlihat ramai oleh wisatawan. Ada yang berfoto ria, berjalan-jalan, juga berolahraga.

Menuju ke bukit ini tidak sulit. Pengunjung tinggal mengikuti trek menanjak sekitar 2 kilometer dengan jalan yang sudah dipasangi batako menembus padang ilalang. ”Puncak” bukit ini adalah jalan panjang dengan kanan dan kiri serupa lereng menurun ke arah lembah. Sebatang pohon palem berdiri di atas bukit.

Ke mana pun mata memandang adalah hijaunya sawah, hutan, dan desa yang asri. Angin berdesir membuat sore terasa lebih romantis. Matahari perlahan bergeser ke barat, menyisakan semburat jingga yang indah untuk menutup hari.

Pukul 07.00 Tegallalang Panorama sawah terasering pada pagi yang masih menyisakan kabut telah termasyhur ke seluruh dunia. Sekitar 5 kilometer dari pusat kota Ubud, terhampar area persawahan Tegallalang dengan sistem perairan subak yang terjaga hingga kini.

Persawahan terlihat rapi berundak di lereng bukit dengan pohon-pohon kelapa dan pisang pada pematangnya menjadi spot yang mengasyikkan untuk foto-foto indah. Sesekali tampak petani melintas, melengkapi dan memperindah potongan gambar area persawahan itu.

Ketika udara pagi masih begitu sejuk dan matahari belum mulai menyengat, sawah Tegallalang sudah ramai dikunjungi wisatawan. Setelah puas mengambil gambar dari tepi jalan, satu persatu mereka menuruni pematang sawah agar lebih dekat dengan keindahan tersebut.

Pukul 10.00 Puri Saren Agung Terletak di tengah kota, Puri Saren Agung juga ramai dikunjungi wisatawan. Pada pagi hingga sore hari, pengunjung bisa bebas masuk ke pelataran puri. Di tengah pancaran matahari yang mulai terik, pepohonan rindang di dalam puri menawarkan keteduhan yang nyaman.

Pada semacam pendopo, terlihat anak-anak kecil tengah bersiap untuk latihan menari. Dibimbing pelatih mereka yang masih muda, anak-anak itu menggerakkan badan dengan luwes. Seketika mereka menjadi sasaran kamera pengunjung. Pada malam hari, digelar pentas tari yang juga selalu dipenuhi wisatawan.

Puri ini merupakan kediaman keluarga bangsawan Ubud. Dari tempat inilah, tradisi dirawat dan dibawa berjalan seiring dengan perkembangan zaman.

Pukul 12.00 Pasar Seni Persis di seberang Puri Saren Agung, terdapat Pasar Seni Ubud yang sebagian besar menjual suvenir dan barang kerajinan khas Bali. Mirip Pasar Sukawati, di sini tempat yang cocok untuk membeli buah tangan bagi keluarga atau kolega. Deretan toko, kios, dan lapak para pedagang menawarkan aneka ragam aksesori, tas, dompet, kaus, kemeja, blus, rok, topi, hingga kain pantai dengan corak dan motif khas Bali. Ornamen, seperti patung kecil, ukiran, dan alat musik pun lengkap ditawarkan para penjual.

Jangan khawatir karena pembeli bisa tawar-menawar dan mendapatkan harga terbaik. Menyusuri jalan di antara toko, lalu mampir dan membeli barang, mampir lagi dan membeli barang, tak terasa sudah dua kantong terisi penuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *