Wisata Hutan Jati dengan KA Kuno di Blora

Susur Hutan Jati dengan Roda Besi

KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO (WHO) Lokomotif kereta uap, diberi nama oleh Presiden RI, Soekarno, yakni Kereta Bahagia, merupakan kereta tua buatan 1928 dari Jerman. Kereta uap ini berjaya mulai 1928-1990, masih beroperasi untuk membawa angkutan kayu jati epanjang 36 kilomeetr dari hutan ke pusat penimbunan kayu di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Lokomotif uap ini masih beroperasi dan jadi andalan di wisata Heritage Train Loko Tour, wisatawan dapat menikmati perjalanan loko uap ini dengan tarif lumayan mahal.

Kabupaten Blora, Jawa Tengah, lebih banyak dikenal sebagai sentra pohon jati yang udaranya kering dan panas. Padahal, wilayah ini menyimpan potensi turisme menarik. Salah satunya, wisata kereta tua memanfaatkan lokomotif uap menyusuri hutan jati.

Sukarman (72), stoker alias juru api, bersiap memanaskan mesin lokomotif uap ”Bahagia”, suatu subuh di akhir Maret. Dia memasukkan potongan kayu jati berdiameter 60-100 sentimeter ke ketel uap loko. Lelaki yang sering disapa Mbah Karman itu menangani kereta api besi tersebut sejak 1979. Begitu api dinyalakan, uap hitam membubung dari ujung cerobong lokomotif buatan Jerman tahun 1928 itu. Untuk memanaskan mesin uap lokomotif butuh waktu tiga jam. Setiap jam, setidaknya 4-5 potongan kayu harus dimasukkan ke tungku pembakaran guna menaikkan suhu panas uap dan membakar air dalam turbin uap.

”Cari pengganti stoker susah. Tugas stoker, memanaskan mesin uap, mengontrol lima roda kereta, melumasi, memastikan rem berfungsi, serta menjaga api di mesin tetap menyala,” ujar Karman.

Mesin lokomotif pun dihidupkan. Pagi itu ada lembaga nirlaba asal Jakarta yang memesan perjalanan lokomotif uap guna keperluan promosi wisata. Lokomotif menarik dua gerbong barang, lengkap dengan muatan kayu jati. Ini mengingatkan suasana perjalanan masa kejayaan lokomotif tua di daerah Blora dan sekitarnya dahulu.

Saat suhu mesin dirasa cukup, Karman membunyikan peluit kereta. Bunyi melengking mengundang sejumlah warga di sekitar ke luar rumah dan mendekati jalur rel kereta wisata.

”Saya selalu mau naik lagi kalau sepur tua itu dikeluarkan dari depo. Terakhir saya naik lokomotif itu tahun 2000. Selanjutnya, lokomotif tua itu tidak beroperasi,” ujar Sudiro, warga setempat.

Perlahan, lokomotif itu keluar dari depo menuju tempat transit untuk menggandeng dua gerbong barang. Suara deritan logam beradu logam antar-roda besi menekan rel baja terdengar nyaring. Mesin uap juga mengeluarkan suara mendesis. Asap putih keluar dari sela bagian mesin.

KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO (WHO) Obyek wisata Heritage Train Loko Tour di kawasan KPH Cepu, Jalan Sorogo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, bukan hanya wisata naik kereta api.

Wisatawan bisa belajar sejarah kereta api, terdapat enam lokomotif tua serta menyaksikan kereta crane, untuk mengangkat balok kayu jati di dalam hutan. Kereta crane buatan sekitar 1900-an bisa disaksikan di halaman stasiun halaman Loko Tour di Cepu.

Angkut kayu Karman mengatakan, lokomotif itu dulu hanya mengangkut kayu jati dari hutan ke tempat penimbunan kayu milik Perhutani di Cepu. Depo loko atau bengkel traksi untuk perawatan lokomotif dibangun sekitar 1911. Lokomotif ini melayani jaringan rel kereta sekitar 300 kilometer, dulu jadi sarana transportasi kayu jati gelondongan di Blora.

Pengoperasian kembali lokomotif ”Bahagia” melengkapi wisata Depo Heritage Trainze Loko Tour di kawasan Kantor Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Cepu, Blora, di Jalan Sorogo. Di lahan milik perusahaan hutan negara itu, wisatawan dapat menyaksikan sembilan lokomotif tua dan satu lori genjot atau onthel yang unik. Dari sejumlah lokomotif itu terdapat empat lokomotif buatan Berliner Maschinenbau Actien Gesellschaft (BMAG) tahun 1928. Lokomotif uap itu diberi nama oleh presiden pertama RI Soekarno dengan nama-nama terkait Kemerdekaan RI, yaitu Tujuh Belas, Agustus, Bahagia, dan Madjoe. Khusus lokomotif Madjoe kini dipajang di kantor pusat Perhutani di Jakarta. Teduhnya suasana di kawasan depo loko KPH Cepu semakin membuat betah pelancong. Udara sejuk menyambut wisatawan, banyak pohon besar dan rindang. Untuk berswafoto, wisatawan punya banyak pilihan. Di antaranya, di depan loko crane, yakni loko yang dulu oleh Jawatan Kehutanan Hindia Belanda sebelum berubah nama menjadi Perhutani digunakan untuk menaikkan balok kayu jati besar ke gerbong. Bisa juga di loko ting-ting, yakni lokomotif buatan Belanda tetapi lebih kecil dan masih berfungsi sebagai kereta wisata. Menurut Agus Kusnandar, junior manager bisnis KPH Cepu, yang membawahi usaha wisata Heritage Train Loko Tour KPH Cepu, wisata tur lokomotif dihidupkan karena unik dan bersejarah. Wisatawan diajak mengenal sejarah lokomotif perusahaan kayu jati, sejarah hutan jati di Cepu, serta mengenal jenis lokomotif uap kuno. ”Wisata Loko Tour termasuk unik di Pulau Jawa. Wisatawan akan menyusuri rel kereta api ke kawasan hutan, menikmati suasana hutan jati tua dari kereta yang juga tua,” ujar Agus.

KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO (WHO) Kereta diesel Ruston, menarik dua gerbong penumpang yang sudah dimodifikasi, menjadi kereta andalan di obyek wisata Heritage Train Loco Tour di KPH Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Kereta diesel Ruston buatan Inggris ini lebih murah bagi wisatawan, menikmati naik kereta api berjarak 3 kilometer dari stasiun di areal KPH Cepu hingga pusat penelitian (Pusdiklat) Cepu, melalui jalur perkampungan, sawah dan kawasan hutan jati. Mendunia Cepu, kota kecil kaya minyak yang berjarak 160 kilometer sebelah timur Kota Semarang, dapat dijangkau wisatawan dengan berbagai alternatif, di antaranya dengan bus umum dari Semarang. Sampai di Terminal Blora, pindah angkutan jurusan Blora-Cepu. Alternatif lain, naik kereta api dari Stasiun Semarang dengan jurusan Bojonegoro, lalu turun di Stasiun Cepu. Dengan kendaraan pribadi pun, jalur Semarang-Purwodadi-Blora-Cepu relatif mulus. Ikhtiar membangkitkan wisata Loko Tour pertengahan Januari 2018 dilandasi komitmen kerja sama Pemerintah Kabupaten Blora dengan Perhutani Cepu. ”Kami ingin menjadikan Loko Tour bagian dari wisata sejarah di Blora. Daerah lain belum tentu memiliki. Loko Tour juga sudah mendunia,” ujar Wakil Bupati Blora Arief Rohman. Sebelum diresmikan, Loko Tour di Cepu justru banyak diminati wisatawan mancanegara, terutama Jerman, Belanda, dan Jepang. Catatan di Heritage Trainze Loko Tour Cepu, wisatawan Jerman paling rajin berkunjung ke Cepu. Mereka tergabung dalam Far Rail Tours. Bahkan, di antara turis asing itu ada yang mengaku keturunan Vormals L Schwartzkopff, pembuat lokomotif uap asal Berlin, Jerman. ”Keluarga pembuat lokomotif itu datang, lalu mencuci dan mengusap-usap lokomotif buatan kakeknya. Dia tidak mau dibantu saat mencuci lokomotif memakai selang air, lalu membasuhnya hingga sebagian sepur hitam itu bersih,” tutur Wiryoso, petugas di Loko Tour Cepu. Selain lokomotif berbahan bakar kayu jati, juga ada lokomotif yang sudah bermesin diesel. Wisata Loko Tour beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00. Tarif per orang sekali jalan untuk menumpang Loko Drensine sebesar Rp 50.000 dengan penumpang maksimal enam orang dewasa. Adapun Loko Tour Kereta Ruston dari Depo ke TPK Batokan beroperasi setiap Sabtu-Minggu dengan penumpang 25 orang per gerbong. Tarif per orang Rp 15.000 atau paket sewa Rp 750.000 per gerbong. Sementara tarif Loko Tour Kereta Uap Bahagia lebih mahal, yakni Rp 9 juta, untuk jarak minimal dari Depo menuju Jembatan Batokan. Adapun harga paket jalur maksimal hingga Gubug Payung hingga Rp 17 juta. Tarif mahal karena bahan bakar mesti memakai kayu jati.

WINARTO HERUSANSONO kereta uap di Perhutani KPH Blora, Jateng Rute perjalanan lokomotif yang tersedia saat ini baru berjarak 3 kilometer. Padahal, panjang total jalur bisa sejauh 36 kilometer, bahkan bisa dikembangkan ke desa-desa wisata yang dulunya dalam jangkauan lokomotif. Namun, saat ini belum semua bantalan rel utuh dan berfungsi. Jika semua jalur sudah diperbaiki, wisatawan tidak hanya menikmati perjalanan lokomotif tua, tetapi juga bisa menyaksikan keunikan desa wisata, misalnya waduk di tengah hutan, pompa sumur angguk peninggalan Belanda, kampung suku Samin, juga stasiun emplasemen kayu untuk bongkar muat kayu jati di masa kolonial Belanda.

Oleh : Winarto Herusansono

Kompas Minggu, 20 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *