Air Terjun Jagasatru

Air Terjun Menjadi Berkah Desa

jagasatru
Air Terjun Jagasatru

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA Air Terjun Jagasatru di Dusun/Banjar Pateh, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, Jumat (9/3), menjadi potensi wisata alam bagi desa yang masih bergulat dengan kemiskinan itu. Pemerintah Desa Duda Timur bersama badan usaha milik desa dan masyarakat menata kawasan obyek wisata Air Terjun Jagasatru sehingga lebih mudah dikunjungi wisatawan.

Pesona Air Terjun Jagasatru di Dusun Pateh, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem, boleh dibilang masih tersembunyi. Panorama di sekitar air terjun itu berupa pemandangan dataran tinggi sekitar kaki Gunung Agung sampai ke pesisir Karangasem di Bali timur.

Air Terjun Jagasatru berada di hutan desa. Beberapa waktu lalu, potensi wisata alam di Dusun/Banjar Pateh itu dibenahi aparat Desa Duda Timur bersama mahasiswa Universitas Udayana, Bali, dalam rangka Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pengabdian Masyarakat Periode XV Tahun 2017. Pesona tersembunyi itu dijadikan obyek wisata baru. Selama ini, warga hanya memanfaatkan air dari air terjun dan sungai sebagai sumber air. ”Baru setahun ini air terjun dikunjungi tamu,” kata Ni Wayan Senin, pemilik warung di Dusun Pateh, Jumat (9/3).

Saat ini, pengendara sepeda motor atau mobil harus berhati-hati saat menuju lokasi Air Terjun Jagasatru. Jalan dari balai dusun ke obyek wisata itu berupa jalan cukup terjal dengan tikungan tajam. Apabila memilih berjalan kaki, dari warung Ibu Wayan sampai ke gang menuju air terjun membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Setelah itu, pengunjung harus melalui jalan setapak untuk mencapai lokasi air terjun.

Kepala Desa Duda Timur I Gede Pawana menyatakan, mereka sedang menata kawasan Air Terjun Jagasatru sebagai obyek wisata alam desa. Menurut Pawana, air terjun ini mulai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun asing, tetapi obyek wisata itu belum terlalu dikenal. ”Masih perlu penataan, terutama akses menuju lokasi air terjun,” ujar Pawana. Jika mudah diakses, Pawana yakin akan lebih banyak wisatawan yang tertarik berkunjung. Dalam buku kunjungan, umumnya wisatawan yang berkunjung berasal dari negara-negara Eropa, Asia, dan Australia. Wisatawan juga memberikan donasi karena kunjungan ke air terjun itu belum dipungut biaya.

Dana desa Pawana menuturkan, rapat desa bersepakat menggunakan sebagian dana desa 2018 yang diterima Desa Duda Timur untuk membiayai penataan kawasan Air Terjun Jagasatru. Penataan kawasan wisata itu dimasukkan sebagai program padat karya. Pihak desa berencana memperbaiki jalan masuk ke lokasi, melebarkan areal parkir, dan menata kawasan sekitar air terjun. ”Kami dari pemerintah desa bekerja sama dengan BUMDes dan warga,” katanya.

Penataan kawasan Jagasatru di Dusun Pateh diharapkan menghidupkan kembali kawasan wisata Putung yang berada di wilayah Desa Duda Timur. Warga Dusun Putung, Ketut Sudana, mengatakan, kawasan Putung lebih dulu dikenal sebagai daerah wisata alam yang menyajikan keindahan pemandangan bukit.

Pawana menyatakan, penataan obyek wisata Air Terjun Jagasatru bertujuan mengembangkan potensi wisata di Desa Duda Timur yang terdiri dari sembilan dusun, termasuk Dusun Pateh dan Dusun Putung. Melalui pengembangan potensi wisata itu, demikian Pawana, masyarakat di Desa Duda Timur bisa mengembangkan perekonomian untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

”Kami berupaya membangun perekonomian masyarakat agar semakin sedikit warga miskin di desa kami,” kata Pawana. Menurut Pawana, Desa Duda Timur masih memiliki ratusan rumah tangga miskin, termasuk di Dusun Pateh. Sebagian besar penduduk Desa Duda Timur bekerja sebagai petani dan buruh.

”Terdapat sekitar 300 keluarga miskin di Desa Duda Timur,” kata Pawana. Melalui program Gerakan Pembangunan Desa Terpadu (Gerbangsadu) Bali Mandara, Pemerintah Provinsi Bali mulai tahun anggaran 2012 menggelontorkan bantuan keuangan untuk desa di seluruh Bali. Jumlah bantuan mencapai Rp 1,02 miliar per desa.

Membangun desa Sasaran awal Gerbangsadu Bali Mandara adalah desa yang memiliki tingkat kemiskinan sekitar 35 persen. Prioritas selanjutnya, bantuan keuangan digulirkan ke desa-desa yang tingkat kemiskinannya lebih rendah. Rp 1 miliar dari bantuan itu diarahkan untuk pengembangan ekonomi produktif di desa. Sisanya, Rp 20 juta, untuk operasionalisasi program Gerbangsadu. Menyusul pemberlakuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, desa mendapat dana desa dari pemerintah pusat. Dana desa pun dialokasikan untuk menunjang aktivitas ekonomi masyarakat desa dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa. Bentuk penggunaan dana desa bermacam-macam, mulai dari pembuatan jalan, pembangunan pasar, pembentukan badan usaha milik desa (BUMDes), sampai pembuatan sumur, fasilitas mandi cuci kakus (MCK), dan penguatan pos pelayanan terpadu (posyandu). Badan Pusat Statistik Provinsi Bali menyatakan, tingkat kemiskinan di Bali per September 2017 adalah 4,14 persen. Persentase kemiskinan di Bali menunjukkan penurunan, yakni 4,76 persen pada 2014 menjadi 4,74 persen pada 2015. Pada 2016, persentase kemiskinan di Bali menjadi 4,25 persen. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi menilai, desa-desa di Bali menunjukkan peningkatan kesejahteraan. Berdasarkan Indeks Desa Membangun Tahun 2015, sebanyak 279 desa (43,87 persen) dari 636 desa di Bali dikategorikan sebagai desa berkembang dan 248 desa (38,99 persen) berstatus desa maju. Hal itu disampaikan Inspektur Jenderal Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi Ansar Husen yang mewakili Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi dalam pembukaan forum Rembuk Desa Provinsi Bali 2018 di Taman Budaya, Denpasar, Minggu (21/1). Pawana menyatakan, perhatian Pemprov Bali ke desa-desa melalui sejumlah program dan bantuan keuangan, misalnya Gerbangsadu Bali Mandara dan bedah rumah serta Simantri (Sistem Pertanian Terintegrasi), ditambah alokasi dana desa dari pemerintah pusat menyemangati pemerintah dan masyarakat desa untuk membangun desa dan mengupayakan peningkatan ekonomi desa. Pawana mengakui, aparat desa, termasuk dirinya, dituntut berhati-hati dan mengikuti aturan dalam pengelolaan bantuan keuangan dan dana desa yang diterima pemerintah desa.

”Kami masih menggunakan sebagian besar alokasi dana desa untuk program pembangunan infrastruktur, seperti perbaikan jalan desa, yang bertujuan meningkatkan aksesibilitas masyarakat dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat kami,” tutur Pawana. Pembangunan infrastruktur desa itu merupakan hasil musyawarah desa yang dihadiri masyarakat desa setempat.

Desa Duda Timur sebagai satu dari 636 desa di Bali merasakan dan menikmati manfaat program pemerintah tersebut. Pawana menambahkan, Desa Duda Timur akan semakin mendekati harapan menjadi desa yang maju.

Oleh : Cokorda Yudistira (Harian Kompas – 21 Maret 2018).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *