Membelah Hutan Mendalam

Perjalanan

Membelah Hutan Mendalam

AGUS SUSANTO Keseharian warga dengan sampan dan anjing di Sungai Mendalam di Desa Datah Diaan Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Senin (26/3).

Keheningan hutan belantara, kecipak jeram-jeram kecil di sungai, dan keramahan warga desa adalah harmoni sederhana, tetapi sarat makna. Di sela-selanya terdengar petikan sapek, alunan musik dangdut, juga perbincangan hangat dari rumah-rumah panggung yang tak lekang masa.

AGUS SUSANTO Warga berjemur matahari pagi sebelum mandi di Desa Datah Diaan Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Senin (26/3).

Inilah yang akan kami dapati ketika mengunjungi beberapa desa di Daerah Aliran Sungai Mendalam di Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Daerah aliran sungai ini berada di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan mayoritas dihuni oleh suku Dayak Kayaan. Orang-orang Kalbar menyebut wilayah di sepanjang sungai ini sebagai Mendalam. Artinya, ’mereka yang tinggal di dekat Sungai Mendalam’.

AGUS SUSANTO Sungai Mendalam dan hunian warga di ujung kampung di Desa Datah Diaan Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Minggu (25/3).

Desa Datah Diaan dan Desa Padua Mendalam yang kami kunjungi dua pekan lalu berjarak sekitar satu jam perjalanan dari kota Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu. Untuk menuju ke desa itu, perjalanan bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat.

AGUS SUSANTO Lalo terlelap di rumah panggungnya di Desa Datah Diaan Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Minggu (25/3).

Dari pusat kota Putussibau, kendaraan berbelok menuju kawasan hutan. Ruas jalan cukup lebar membelah hutan belantara. Sebagian diperkeras dengan beton, sebagian masih berupa pasir dan batu. Sejauh mata memandang adalah rimbun pepohonan. Lebih asyik jika jendela mobil dibuka karena hawa segar dan suara-suara serangga hutan segera menyergap indera. Sesekali terlihat satu dua rumah warga di antara rumpun pohon karet. Namun, selebihnya adalah keheningan alam.

AGUS SUSANTO Nenek Ku’ Buaa yang memiliki telinga panjang atau disebut aruu’ saat bersantai di rumahnya di Desa Datah Diaan Mendalam, Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Minggu (25/3).

Nenek moyang Suku Dayak Kayaan memelihara telinga’ aruu’ untuk mempercantik penampilan dan untuk menunjukkan kelas sosial seseorang. Semakin panjang telinga seorang gadis, dianggap semakin cantik. Sepanjang perjalanan, kendaraan menyeberangi sungai-sungai kecil melewati jembatan kayu. Setidaknya terdapat 12 jembatan yang harus kami lintasi sebelum sampai di bibir Sungai Mendalam untuk kemudian menyeberang ke Datah Diaan.

Ujung jalan yang membelah belantara adalah bibir Sungai Mendalam. Tidak ada jembatan yang bisa diseberangi sehingga kendaraan harus ditinggalkan di tepi jalan, tak jauh dari dermaga sederhana untuk penyeberangan. Beberapa warga mengoperasikan semacam sampan lebar dan datar yang digerakkan dengan mesin untuk menyeberangkan orang dan sepeda motor. Tarifnya bergantung kepada si tukang perahu. Biasanya satu sepeda motor Rp 10.000 dan satu orang berkisar Rp 3.000-Rp 5.000. Tak sampai semenit, tibalah penumpang di seberang sungai.

Selamat datang Senyum ramah warga Desa Datah Diaan terasa menyambut hangat. Banyak di antara mereka meriung di tangga-tangga rumah panggung atau di bangunan sejenis pos siskamling. Mereka begitu santai, bahkan bertelanjang dada atau sekadar memakai singlet sehingga tato-tato di tubuh mereka mudah dipindai mata. Tato adalah bagian penting kehidupan mereka. Soal tato, nanti kami tanya kepada Ku’ Veronika Buaa (73), perempuan yang kedua lengan dan kakinya penuh tato.

Dasius Simuu, warga Datah Diaan, menuturkan, mereka terbiasa dengan kehadiran orang asing, terutama peneliti dan media. Ada yang melihat dengan malu-malu hingga menyapa dan bertanya, semua sangat terbuka. Keunikan mereka yang tetap mempertahankan budaya warisan leluhur menarik minat berbagai kalangan. Rumah betang yang menjadi tempat berkumpulnya warga atau tempat acara adat digelar masih bertahan dan terawat dengan baik. Hari itu, warga berkumpul untuk gotong royong memperbaiki pilar yang mulai rapuh. Warga tak keberatan aktivitasnya difoto atau direkam dengan video. Simuu dengan senang hati menunjukkan kepiawaiannya bermain dan membuat alat musik sapek.

Sesampainya di rumah Simuu, kami disambut dengan kopi hangat manis, sehangat sikap dan semanis senyum mereka. ”Ini minuman yang wajib ada dan diterima tamu. Tidak boleh menolak,” kata Simuu, antara serius dan kelakar. Namun, kopi hangat itu memang nikmat disesap setelah perjalanan yang lumayan panjang tadi.

Jalan desa sudah diperkeras dengan beton. Sepeda dan sepeda motor kini menjadi alat transportasi mereka untuk bepergian. Jalan itu menghubungkan Desa Datah Diaan dengan Desa Padua Mendalam.

Namun, Sungai Mendalam-lah yang menjadi nadi kehidupan warga. Di tepi sungai itu, warga mandi dan mencuci. Mereka juga menangkap ikan di situ. Jalan darat yang terbatas membuat sungai itu jadi ”jalan raya” untuk aktivitas dan mobilitas sehari-hari warga, seperti ke kebun karet, hutan, atau ke desa-desa lain.

Ketika ketinggian air normal, pulau-pulau di tengah sungai atau disebut ”karangan” oleh warga sekitar bisa menjadi area bermain. Anak-anak kecil berenang dan mencari ikan, juga belajar mendayung perahu ke arah hulu. Saat hujan turun deras pada malam hari, paginya permukaan air Sungai Mendalam naik 3-5 meter. Air pun berwarna kecoklatan dari semula bening. Arus menjadi lebih kencang.

Warga Desa Datah Diaan yang ”wajib” ditemui adalah Ku’ Veronika Buaa. Nenek Buaa adalah satu dari segelintir perempuan Dayak Kayaan yang masih memiliki telinga panjang atau telinga aruu’. Memanjangkan telinga merupakan salah satu tradisi masyarakat Dayak Kayaan yang dulu diwajibkan bagi anak perempuan sebagai simbol kecantikan.

Ada enam anting dari bahan tembaga putih di masing-masing telinganya yang memanjang hingga menyentuh bahu. ”Mandi, tidur, saya pakai. Ada yang aneh kalau tidak dipakai,” tutur Nenek Buaa.

Generasi setelah dia, terutama anak-anaknya, tidak ada lagi yang bersedia memajangkan telinga karena malu. Sebab, memang banyak orang mengejeknya, termasuk orang Kayaan sendiri. Bagi Nenek Buaa, tidak perlu malu mempertahankan identitas. ”Semua omongan orang tidak perlu dihiraukan, nanti hati malah jadi kesal,” begitu dia menjelaskan alasannya. Menurut dia, itu pula resepnya berusia panjang dan bahagia. Selain telinga panjang, tangan kanan dan kiri dari siku hingga ke ujung jari-jari, juga punggung telapak kakinya, berhias tato tradisional Dayak Kayaan. Sejak ia berumur 10 tahun, tato dirajahkan sebagai lambang api atau lampu yang akan menerangi jalan saat kelak meninggal. Motifnya beragam dan sangat detail, seperti naga, anjing atau asok, burung enggang, sulur tanaman, dan gulungan pakis.

Kepercayaan itu masih melekat. Sebagian orang Kayaan percaya bahwa orang-orang yang sudah meninggal tetapi tidak memiliki tato menunggu arwah orang-orang bertato untuk membantu menerangi mereka menuju surga.

Suasana perdesaan yang tenang, aktivitas yang dekat dengan alam, dan tradisi yang masih dihidupi masyarakat serasa melambai-lambai memanggil untuk berkunjung lagi ke Mendalam. Dengan waktu yang hanya sebentar, mendalami Mendalam terasa kurang mendalam. Tunggulah, kapan-kapan kami datang kembali.

Oleh : Fransisca Romana Ninik & Mohammad Hilmi Faiq

Harian Kompas, 8 April 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *