Perjalanan ke Kalabahi, Alor, NTT

Avontur

Kalabahi, Alor

FOTO-FOTO: KOMPAS/NINUK MARDIANA PAMBUDY Pemandangan ke arah Pulau Kepa dari Alor yang berpasir putih. Sekeliling pulau itu terdapat titik-titik selam.

Sebagai penduduk Jakarta, mendengar kata Alor segera terbayang sebuah kawasan jauh di timur Indonesia. Pertanyaan pertama adalah bagaimana mencapai kepulauan yang terkenal ke seluruh dunia sebagai salah satu titik selam terbaik dunia.

Ruth, warga kampung tradisional Takpala, Desa Lembur, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor.

Ternyata menuju Alor tidak terlalu sulit. Dari Jakarta memang tidak dapat terbang langsung menuju Bandara Mali di Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor. Namun, Kalabahi dilayani sejumlah maskapai penerbangan dari beberapa kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ikan kuah asam yang menjadi menu favorit wisatawan di Resto Mama, Teluk Mutiara, Kalabahi, Alor.

Penerbangan Jakarta ke Kupang, ibu kota NTT, hanya kurang dari tiga jam dengan pesawat jet. Penerbangan dari Kupang ke Kalabahi dilayani pesawat berbaling-baling dengan lama penerbangan 1 jam.

Para ibu berjualan hasil bumi di Pasar Kadelang, Teluk Mutiara, Kalabahi, Alor. Hampir semua pedagang di pasar adalah perempuan.

Tempat menginap di Kalabahi tidak terlalu banyak meskipun Kepulauan Alor mulai menyedot wisatawan domestik dan asing. Sebagian turis memilih menginap di resor, seperti antara lain, di Pulau Kepa yang hanya “selemparan batu” dari Alor.

Perjalanan ini bukan perjalanan wisata, melainkan untuk menyerahkan bantuan pembaca Kompas untuk korban bencana melalui Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas berupa 2 bangunan sekolah dasar di Alor Timur yang rusak karena gempa tektonik pada 4 November 2015. Karena itu, waktu terbatas ingin digunakan melihat sebanyak mungkin Alor sebagai pulau utama.

Pukul 13.30

Kalabahi

Setiba di Kalabahi tujuan pertama mencari tempat makan. Resto Mama adalah tempat makan yang populer bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Terletak menjorok di atas laut Teluk Mutiara, Kalabahi, restoran ini terkenal karena sup ikan kuah asam dan buah asam. Supnya bening dengan ikan karang segar, antara lain kerapu. Tempat makan ini juga menyajikan ikan bakar dengan berbagai bumbu. Yang tidak boleh dilewatkan adalah sayur tumis kangkung bunga pepaya yang terasa lebih enak dalam cecapan karena rasa getir hanya samar dibandingkan dengan umumnya masakan bunga pepaya.

Pukul 15.00

Pasar Kadelang

Apabila ingin mengetahui kondisi ekonomi suatu daerah, sempatkan mampir ke pasar tradisionalnya. Dari Resto Mama berjalan kaki hanya 5 menit akan sampai di Pasar Kadelang. Pasar didominasi perempuan sebagai penjual. Meski matahari telah tergelincir dari puncaknya, pasar masih ramai. Para mama, begitu perempuan yang sudah menikah dan menjelang paruh baya biasa dipanggil, sebagian besar menjual sayuran dan hasil bumi lain, seperti daun singkong, umbi singkong, dan ikan segar. Mereka juga menawarkan mangga kelapa yang mendapatkan namanya karena berukuran sebesar kelapa.

Buah pinang juga banyak ditawarkan. Mengunyah buah pinang dan buah sirih masih menjadi kebiasaan banyak perempuan. Di desa-desa, bahkan anak-anak usia sekolah dasar, juga ada yang menginang, membuat bibir dan gigi mereka merah kekuningan.

Rasa penasaran tentang jagung titi yang banyak disebut sebagai makanan khas masyarakat Nusa Tenggara Timur terjawab di pasar ini. Jagung titi atau tumbuk mendapat namanya dari cara pembuatannya, yaitu dengan menumbuk bulir jagung pulut memakai batu bulat sampai gepeng tipis.

Sebelum dititi, bulir jagung disangrai setengah matang. Soal rasa tergantung selera. Yang jelas, saat dimakan terasa liat dan hambar.

Pukul 16.30

Rumah tenun Mama Syariat

Nama Syariat Libana (53) yang lebih populer dipanggil Mama Syariat sudah terkenal ke mancanegara. Di sela-sela menjelaskan corak kain tenun Alor yang tidak seramai tenun banyak daerah lain di NTT, Syariat mengatakan sudah menyiapkan 50 lembar kain untuk dipamerkan di Milan. Tahun ini perempuan yang di-guru-kan oleh para perempuan di sekitar kampungnya di Desa Ternate, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, itu sudah memamerkan kain di Belanda dan Timor Leste.

Syariat menjadi istimewa karena perempuan yang tidak tamat sekolah dasar ini tekun mencari ramuan pewarna alami. Di halaman rumahnya ada tanaman mengkudu yang akarnya dipakai untuk memberi warna merah, pohon tarum atau nila alias indigofera untuk mendapat warna biru tua, dan pohon kapas yang seratnya dipintal menjadi benang tenun. Dia juga mencoba berbagai bahan dari laut yang tidak jauh dari desa itu. Tinta cumi hingga cangkang kerang adalah bahan-bahan yang dia pakai untuk mewarnai atau penguat warna.

Selain bercerita tentang corak naga yang merupakan corak tertinggi di Alor, Syariat bercerita juga tentang corak gajah dan aneka biota laut yang mengilhami tenunannya.

Pukul 17.30

Pelabuhan Alor Kecil

Dalam perjalanan kembali ke Kalabahi yang berjarak sekitar 30 menit naik, jangan lupa berhenti sejenak di tepi pantai untuk melihat matahari beranjak tenggelam. Warna kemerahan memantul di atas air laut yang setenang permukaan cermin. Di depan mata terbentang deretan pulau-pulau Kepa, Buaya, Ternate, Pura, dan yang terbesar, Pantar. Di sekitar Teluk Mutiara hingga ke Kepa terdapat sejumlah titik penyelaman dan selam permukaan.

Pukul 20.00

Warung Wong Jowo

Di Kalabahi tempat makan banyak dimiliki pendatang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Warung Wong Jowo salah satunya. Warung di Kampung Binongko ini menjual ikan bakar, sate ayam, soto ayam, dan gado-gado. Pasangan suami-istri Wiji dan Suwarni asal Klaten, Jawa Tengah, memulai usaha tempat makan sejak tahun 2002. Rasa ikan bakarnya tidak mengecewakan, tetapi juga tidak terlalu istimewa. Yang istimewa, pembeli terus mengalir.

Dusun Tanglapui, Alor Timur

Bertolak menuju Dusun Tanglapui 2, Desa Kobra, Kecamatan Alor Timur, untuk menyerahkan bantuan dari pembaca harian Kompas melalui Dana Kemanusiaan Kompas untuk pembangunan gedung sekolah dasar SD Gereja Masehi Injili di Timor di Dusun Sidomang dan SDN Tanglapui 2 di Dusun Tanglapui, Desa Kobra, keduanya di wilayah yang berbatasan dengan Timor Leste. Masing-masing terdiri dari 6 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan dan 1 ruang guru, total biaya pembangunan Rp 2,3 miliar.

Perjalanan menuju lokasi penyerahan gedung sekolah kepada Bupati Alor Amon Djobo butuh sekitar 3 jam menyusur tepi pantai yang merupakan bibir Laut Banda. Jalan aspal mulus berkelok-kelok menanjaki perbukitan. Sepanjang perjalanan sinyal telepon hilang dan jalanan pun sepi.

Pukul 11.30

Dusun Tanglapui

Tempat upacara penyerahan bangunan sekolah ada di SDN Tanglapui 2 di Dusun Tanglapui. Anak-anak berseragam kemeja putih dan bawahan merah sudah menunggu dari pagi. Di bagian kiri kemeja mereka ada bordiran merah putih, lambang bendera Indonesia.

Kami semua menunggu kedatangan Bupati Alor Aman Djobo yang baru terbang dari Jakarta pagi harinya. Sekitar pukul 13.00 upacara penyerahan bangunan selesai setelah sebelumnya anak-anak sekolah mengajak para tamu menari lego-lego sebagai ucapan selamat datang dan ungkapan harapan mereka.

Pukul 15.00

Maritaing

Dari Tanglapui hanya perlu setengah jam untuk sampai ke Maritaing. Ini adalah desa di terluar di timur Alor. Pulau Atauro milik Timor Leste terlihat jelas sore itu. Sayang cuaca agak mendung sehingga Dili, ibu kota Timor Leste, tak terlihat.

Pos TNI AL Pulau Alor menunggu di bibir pantai. Pos pengamat ini menginduk ke pangkalan TNI di Maumere, Flores. Selat Ombai antara Alor dan Atauro menjadi jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia III, yaitu jalur akses yang diberikan Indonesia bagi kapal asing berlalu lalang.

Pemandangan mencolok adalah patung yang menggambarkan Jenderal Sudirman, tegak setinggi sekitar 20 meter menghadap ke laut. Panglima besar itu seperti gambaran yang umum ditampilkan: memakai ikat kepala dan berjaket panjang, kali ini membawa keris di pinggang.

Pukul 17.30

Maritaing-Kalabahi

Ketika matahari semakin tergelincir ke ufuk, inilah saat kembali ke Kalabahi. Gelap menemani di hampir sepanjang tiga perempat perjalanan kembali. Dan, nyaris sendiri.

Baru saat mendekat ke arah Kalabahi, kendaraan dihentikan sopir angkot. Rupanya satu penumpangnya ingin menumpang. Terpaksa permintaan tidak dapat dipenuhi karena mobil sudah penuh.

Desa Takpala

Pesawat menuju Kupang dijadwalkan berangkat pukul 10.00. Masih ada cukup waktu untuk mengunjungi Desa Tradisional Takpala di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, yang dihuni suku Abui yang artinya orang gunung. Jarak Takpala hanya sekitar 20 menit bermobil dari Kalabahi ke arah timur. Desa itu berada di atas bukit di tepi pantai.

Ada 16 rumah kayu berbentuk limas di sana, dua di antaranya rumah “sejarah”, yaitu rumah yang dianggap simbol utama desa ini, tidak dihuni, dan hanya dibuka setahun sekali saat upacara menjelang musim tanam di ladang bulan Juni-Juli. Menurut Martinus, salah satu warga Takpala, ada 40 orang tinggal di Takpala. Warga lainnya memilih tinggal di tepi pantai.

Segera tampak kehidupan sederhana warga desa. Mata pencarian utama adalah berkebun. Kedatangan turis mereka manfaatkan untuk mendapat penghasilan tambahan dari menjual cendera mata berupa kain tenun, kalung, dan gelang dari batuan, serta tas dari kulit kayu.

Apabila ingin tampak seperti warga asli, Martinus siap meminjamkan kain adat untuk laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki, dilengkapi parang, busur, panah, juga hiasan kepala dari bulu burung. Bagi perempuan, gelang kaki dari kuningan membuat setiap kali melangkah bergemerincing, menandai ke mana dia bergerak.

Oleh : Ninuk M Pambudy

Harian Kompas, 19 November 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *