Adventure di Sungai Citatih, Sukabumi

KOMUNITAS

Menguji Adrenalin di Sungai Citatih

SUGIYANTO

Perahu karet melewati salah satu jeram di Sungai Citatih dalam arung jeram yang dilakukan alumni Kompas Bike dan Jelajah Sepeda Kompas, Minggu (17/12). Arung jeram ini sejauh 12 kilometer dan melewati 21 jeram yang menantang.

Mencoba mencari suasana yang berbeda. Itulah yang dilakukan puluhan pesepeda yang pernah mengikuti perjalanan bersepeda jarak menengah dan jauh yang dilakukan harian Kompas, akhir pekan lalu. Kali ini, bukan hanya bersepeda, mereka juga menguji adrenalin dengan mengikuti arung jeram di Sungai Citatih, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kegiatan sejenis reuni ini dimulai Sabtu (16/12) pagi. Mereka bersepeda dari Hotel Santika Bogor, melewati Stasiun Batutulis, kemudian bergerak ke arah Cijeruk, berlanjut ke Jalan Raya Sukabumi, lalu menuju ke Cibadak. Selepas Pasar Cibadak, perjalanan berlanjut menuju ke arah Palabuhanratu dan berakhir di Riam Jeram di Kampoeng Lalay, Desa Sirna Jaya, Kecamatan Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi.

Jarak yang ditempuh sekitar 65 kilometer. Selama perjalanan, pesepeda beberapa kali nyaris terkunci di beberapa titik akibat kemacetan parah, terutama dari Batutulis hingga Cihedeng. Sejumlah truk dan bus enam roda dibiarkan melewati ruas jalan yang sempit tersebut sehingga menimbulkan kemacetan hingga beberapa kilometer.

”Rute ini menarik. Ada tanjakan pendek dan panjang disertai turunan. Alamnya juga menarik, terutama arah ke Palabuhanratu. Untuk bersepeda memang bagus. Tetapi, kepadatan kendaraan belum terurai dengan baik. Semoga setelah jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi beroperasi, jalur ini menjadi lebih longgar sehingga warga di Jabodetabek tertarik untuk berlibur dengan nyaman di wilayah Sukabumi,” ujar Oktovianus Noya (65), peserta asal Cinere yang pernah mengikuti Jelajah Sepeda di Sulawesi, Papua, dan Flores.

Menantang

Memilih jalur Palabuhanratu sesungguhnya bukan sekadar ingin menikmati pesona alam di kawasan selatan Jawa Barat, tetapi juga mau mencoba tantangan lain dalam menguji adrenalin, yakni bermain arung jeram di Sungai Citatih.

Arung jeram di Sungai Citatih memiliki panjang sekitar 22 kilometer. Di dalamnya terdapat 22 titik jeram yang amat menantang adrenalin. Dari 22 kilometer tersebut, sekitar 13 kilometer pertama merupakan trip petualangan yang menarik sekaligus menyenangkan. Di awal perjalanan, jeram masih mendatar, kemudian di tengah menghadapi banyak jeram yang menantang, dan menjelang finis kembali mendatar. Lalu 9 kilometer sisanya biasanya cocok untuk arung jeram keluarga dan pemula yang sifat riamnya agak datar dan tidak terlalu menantang.

Sungai Citatih, menurut Ahmad Yasin dari bagian pemasaran Riam Jeram, memiliki tingkat kesulitan tiga hingga empat. Artinya, arung jeram yang dilakukan di sungai tersebut bisa untuk semua kelompok, baik pemula, keluarga, maupun profesional.

”Itu sebabnya peminat arung jeram di Sungai Citatih ini cukup tinggi. Hampir setiap minggu kami melayani permintaan arung jeram, baik dari wisatawan asing, kelompok karyawan, mahasiswa, maupun komunitas. Belakangan, permintaan cukup tinggi,” jelas Yasin.

Minggu (17/12) sekitar pukul 07.30 WIB, peserta arung jeram sudah berkumpul di lokasi penginapan di Riam Jeram di Kampoeng Lalay, Desa Sirna Jaya. Sekitar 20 menit kemudian, mereka diangkut dengan mobil menuju Desa Bojong Kerja, sekitar 15 kilometer arah utara. Di sana, dimulai perjalanan mengarungi sungai.

Sebelum arung jeram dimulai, Anas, petugas dari Riam Jeram, menginformasikan sejumlah aturan yang wajib ditaati peserta selama mengarungi sungai. Ia juga menginformasikan kondisi terkini Sungai Citatih yang berada dalam keadaan normal sehingga layak dilakukan arung jeram.

”Permukaan air sungai hanya naik sekitar 10 sentimeter. Aliran air pun bagus sehingga layak dan aman untuk bermain arung jeram. Perjalanan kita akan sejauh 12 kilometer melewati 21 jeram yang menarik,” tutur Anas.

Mendengar sejumlah informasi itu, para peserta tidak sabar untuk memulai arung jeram. Alexy Y Pasaribu dari Jakarta Utara, misalnya, langsung mengajak beberapa peserta segera ke tepi sungai. ”Ayo, mari kita ke sungai. Sudah enggak sabar. Ingin segera main air, uji adrenalin, nih,” ujar Alexy yang pernah mengikuti Jelajah Sepeda Flores-Timor dari Labuan Bajo hingga Atambua tahun 2016 dan Jelajah Sepeda Flores tahun 2017.

Agatha Tedjamulya, salah satu perempuan yang pernah mengikuti Jelajah Sepeda Manado-Makassar, mengaku sudah lama tak bermain arung jeram. Terakhir kali sekitar tiga tahun silam, juga di Sungai Citatih. Sejak itu, dia sesungguhnya mulai ketagihan, tetapi sulit mendapatkan kesempatan.

Enam jeram

Tidak lama kemudian arung jeram pun dimulai. Menggunakan empat perahu karet dan di setiap perahu didampingi petugas dari Riam Jeram. Awalnya penyusuran sungai itu masih datar. Namun, setelah 100 meter mulai menghadapi satu demi satu jeram hingga jeram ke-21.

Setiap jeram memiliki nama berbeda. Dimulai dari jeram slalon, kemudian jeram ngehe, serius, jontor, asmara, undercut, pabeulit, gerbang, zigzag, warok, marzuki, gigi, roller coaster, blender, panjang, monyet, terlena, cihuy, kerinduan, mascot, dan harga diri. Dari 21 jeram itu, yang paling menantang adalah jeram gerbang, zigzag, warok, marzuki, gigi, dan jeram roller coaster.

Dari keenam jeram itu, jeram warok memiliki tingkat kemiringan sungai yang cukup terjal dan memiliki beberapa tingkat jeram dalam jarak amat pendek. Perahu pun bisa terbuang ke kiri dan kanan, atau melompat ke depan. Kalau perahu tiba-tiba terbalik saat melewati jeram warok, upaya penyelamatan pun membutuhkan perjuangan berat. Bahkan, jika pertolongan terlambat dilakukan, perahu atau orang yang terjatuh bisa terbawa arus lebih kurang 300 meter hingga di jeram panjang.

Itu sebabnya, saat melewati jeram-jeram yang menguji adrenalin itu, para petugas dari Riam Jeram yang mendampingi perahu peserta terus-menerus mengingatkan peserta agar konsentrasi dan fokus. ”Jangan lupa selalu waspada agar perahu kita tidak terlempar,” ujar Dollah, pendamping perahu kedua.

Saat di jeram ke-17, yakni jeram terlena, sebagian peserta meminta perahu mereka dibikin terbalik. Di lokasi itu tidak ada batu-batu besar dengan arus air tidak deras sehingga memungkinkan peserta menyelamatkan diri.

”Kalau ada permintaan peserta untuk dibuat perahu terbalik, kami hanya rekomendasikan di jeram terlena. Di luar itu kami tolak sebab risikonya besar,” kata Yasin.

Saking menantang jeram-jeram yang dilewati itu, tanpa terasa perjalanan sudah selama tiga jam dan menempuh jarak sekitar 12 kilometer. ”Rasanya, kok, cepat banget tiba di finis, padahal belum dapat klimaksnya, lho. Maunya arung jeram ini lebih lama dan lebih jauh lagi,” kata Abdul Aziz, peserta lainnya.

(JANNES EUDES WAWA)

Harian Kompas, 20 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *