Peristirahatan Abadi Seniman

SENIMAN

Makam di Atas Bukit

KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO

Patung pelukis Saptohoedojo di Taman Makam Seniman dan Budayawan Pengharum Bangsa, Imogiri, Bantul, Kamis (12/7/2018).

Gerbang masuk menuju makam seniman berbentuk setengah lingkaran. Di belakangnya tampak pohon bugenvil berbunga merah yang memperindah pohon-pohon lain dengan hijau daunnya. Anak tangga berbaris menanjak semakin ke atas semakin menyempit. Suasana yang tenang dan damai berpadu pas dengan udara pagi, Kamis (12/7/2018).

Kompleks makam ini digagas seniman Saptohoedojo. Kini dikelola sang istri, Yani Saptohoedojo, dibantu Totok Sudarwoto yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia. Masyarakat kadang menyebut tempat itu dengan nama pemakaman Giri Sapto, tetapi Yani menyatakan hal itu tidak benar. ”Nama peristirahatan itu Makam Seniman dan Budayawan Pengharum Bangsa,” katanya.

Kompleks pemakaman itu didirikan di Bukit Gajah, Girirejo, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Cukup mudah menemukan lokasi pemakaman karena letaknya berdekatan dengan Makam Raja-raja Mataram di Imogiri. Bukit itu diubah menjadi tujuh lapis hingga ke puncak bukit. Ada lebih dari 80 buah anak tangga yang harus dilalui untuk mencapai ke puncak.

Sejumlah seniman tersohor dimakamkan di sini, baik jenazah maupun abu jenazahnya. Mereka adalah seniman yang berasal dari berbagai bidang dari seni rupa, tari, musik, hingga sastra. Ada pun nama-nama seniman yang beristirahat di sini antara lain musisi Kusbini, L Manik, pematung Edhi Sunarso, komikus Harya Suraminata yang lebih dikenal dengan nama Hasmi, pencipta tokoh Gundala Putera Petir, pencipta wayang kancil Ki Lejar Soebroto, dan beberapa nama besar lainnya. Terakhir, abu jenazah karikaturis GM Sudarta, yang dikenal lewat karakter ”Oom Pasikom”, beristirahat di makam yang asri ini, Selasa (3/7).

Akrab dengan keindahan

Seniman terbiasa dan akrab dengan keindahan. Hingga akhir hayatnya, mereka tampaknya ingin tetap terlihat indah. Nisan milik Kanjeng Raden Tumenggung Sasmintadipura, penari dan abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, terbuat dari batu seperti bahan candi. Di belakang nisan itu, dipasangi pula arca Batara Guru.

Totok mengatakan, peristirahatan dengan nama Makam Seniman dan Budayawan Pengharum Bangsa, sesuai dengan kiprah seniman selama hidupnya. Para seniman itu, secara sadar, membuat karya seni yang didedikasikan untuk bangsanya.

”Mereka itu berjuang lewat jalur kebudayaan. Selama hidupnya membuat karya yang indah-indah dengan tujuan mengharumkan nama bangsa. Karya seni mereka buat tidak hanya diposisikan sekadar sebagai karya seni, tetapi untuk bangsa,” kata Totok.

Kusbini adalah musisi yang menciptakan lagu berjudul ”Bagimu Negeri” pada 1942. Lagu itu menggambarkan perasaan cinta dan rela berkorban anak bangsa terhadap ibu pertiwi yang dilagukan dengan melodi yang syahdu. Digemakannya lagu itu melecut semangat anak bangsa untuk merdeka.

Edhi Sunarso, pematung, melakukan hal serupa dengan bentuk berbeda. Ia merupakan pematung kesayangan Presiden Pertama Indonesia Soekarno. Ia sempat ikut berjuang pada masa revolusi sebagai kurir penghubung. Salah satu karya monumentalnya adalah Patung Selamat Datang yang dibangun dalam rangka Asian Games 1962 di Jakarta.

Yani menceritakan, ide untuk membangun makam itu muncul setelah ia dan suaminya bepergian dan melihat banyaknya makam pahlawan di berbagai daerah. Namun, tidak ada makam untuk seniman yang sebenarnya sama-sama ikut berjuang untuk Indonesia.

”Menurut bapak (Saptohoedojo), seniman-seniman ini tidak ada bedanya dengan para pahlawan. Mereka sama-sama berjuang untuk Indonesia. Pejuang dengan senjata, sedangkan seniman, ya, senjatanya alat-alat untuk membuat karya itu,” kata Yani saat ditemui di Sapto Hoedojo Art Gallery, Sleman, pekan lalu.

Makam itu dibangun dengan dana yang dikumpulkan secara mandiri. Yani mengatakan, ia tidak pernah menghitung berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk membangun makam. Hal yang diinginkannya adalah penghargaan kepada para seniman yang selama ini dinilainya masih kurang.

Secara terpisah, Djoko Pekik yang biasa dipanggil Pekik, pelukis asal Yogyakarta, mengakui penghargaan terhadap para seniman itu memang masih kurang. Adanya makam seniman setidaknya memposisikan seniman sebagai orang yang setara posisinya dengan pahlawan.

”Seniman adalah pengharum bangsa sehingga sama saja sebetulnya dengan pahlawan. Mereka dengan kuasnya, biolanya, dan lain-lain, membuat perjuangan bangsa menjadi indah. Itu membuat nama Indonesia menjadi harum. Terlebih mereka yang karyanya diakui secara internasional,” ujar Pekik.

Saat ini, terlihat bedeng-bedeng dan tiang pancang serta alat berat yang berada di kompleks makam. Sepanjang pagi itu, para pekerja juga sibuk mengoperasikan alat-alat beratnya memindahkan bebatuan untuk membentuk sebuah bangunan.

Yani mengatakan, suaminya sempat berpesan kepadanya agar di makam itu dibangun pula museum. Melalui museum, karya para seniman yang dimakamkan di tempat itu dapat sekaligus dipamerkan kepada peziarah dan juga wisatawan. Harapannya, masyarakat dan generasi muda akan dapat mengenang dan terinspirasi oleh karya para seniman.

Peletakan batu pertama pembangunan museum makam itu dilakukan pada April 2018 oleh Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X. Totok mengharapkan, agar nantinya museum itu dapat membuat makam seniman sekaligus menjadi tempat untuk belajar bagi generasi muda tentang sejarah kesenian di Indonesia. ”Di sini ada kumpulan karya dan makam-makam mereka. Banyak hal yang bisa dipelajari tentang perjalanan kesenian di Indonesia,” ujarnya.

Tampaknya, tidaklah berlebihan sebenarnya apabila para seniman itu disebut sebagai para pejuang pengharum bangsa. Penghargaan berupa taman makam di atas bukit kapur yang indah menjadi hal yang layak diberikan untuk mengenang jasa dan perjuangan mereka bagi Indonesia.

Oleh : Nino Citra Anugrahanto

Kompas Minggu, 14 Juli 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *