Monumen Garuda Wisnu Kencana

ESAI

Menyambut Garuda Wisnu Kencana

FOTO-FOTO: ARSIP SILUET NYOMAN NUARTA

Desain sebagian kawasan Garuda Wisnu Kencana di Bukit Ungasan Jimbaran, Bali.

Pada masa laju pertumbuhan yang pesat, di pengujung dekade 1980-an, bangsa kita menemukan dirinya sebagai masyarakat yang perlu mengembangkan diri. Akselerasi ekonomi, kehidupan urban, infrastruktur, media wacana dan pengalaman hidup sehari-hari mulai mengalami perubahan. Seiring terangkatnya nama negara Indonesia, kita juga berlomba-lomba mendapatkan tempat perhatian dan kesan yang baik di mata dunia. Untuk memperlihatkannya, tidak ada jalan yang lebih baik, selain dari jalur budaya.

Adalah gagasan dari sosok Joop Ave, mantan Direktur Jenderal Pariwisata dan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi dekade 1990-an, untuk membuat sebuah ”megaproyek” budaya dan pariwisata. Ide Joop Ave sederhana: membuat monumen besar yang khas dan berkesan kuat untuk ditempatkan di Bandar Udara Ngurah Rai, Bali, supaya pengunjung dari seluruh dunia dapat melihat ikon yang menjadi wajah dan simbol pengikat dari Indonesia yang bermartabat dan berkelas dunia.

Ketika itu Joop Ave menemui Nyoman Nuarta, kemudian bersama dengan Gubernur Bali (1988-1993) Ida Bagus Oka dan Menteri Pertambangan dan Energi (1993-1998) Ida Bagus Sudjana untuk merancang dan membuat monumen tersebut. Namun, tentu saja membangun struktur besar di dekat bandara bukanlah ide yang baik, meski niatnya mulia.

Gagasan yang muncul ketika itu adalah memindahkannya ke satu bukit kapur di Ungasan, 10 kilometer ke arah selatan Bandara Ngurah Rai. Di puncak bukit tersebut, dengan langit Bali yang cerah, dari udara dan dari kejauhan akan jelas terlihat satu monumen besar ditempatkan di atasnya. Hanya saja, justru monumen ini harus menjadi jauh lebih besar ketimbang gagasan awal Joop Ave. Gagasan baru ini disetujui dan lahirlah konsep patung Garuda Wisnu Kencana (GWK).

Di sini terkandung suatu kesempatan dan juga tumbuh suatu mimpi. Mimpi untuk Bali, mimpi untuk Indonesia, di tingkat dunia. Mengapa hanya berhenti pada satu monumen? Mengapa tidak menjadikannya yang terbesar, juga yang tercanggih-terumit? Lalu punya kesan ikonis yang tidak tertandingi oleh semua monumen lain? Patung Garuda Wisnu–menggambarkan Dewa Wisnu menunggangi Garuda—merupakan sebuah ikon yang sangat berarti untuk masyarakat Bali. Sering kita temukan di seluruh penjuru Bali, makna dan kehadirannya jauh terkait hingga ke arca-arca kuno dalam kebudayaan kita. Yang tertua adalah yang kini ada di Trowulan, Jawa Timur, yang menjadi inspirasi bagi penciptaan lambang Garuda Pancasila. Garuda Wisnu dari Trowulan ini menarik, sebab sangat trimatra, dipahat dari satu batuan utuh, dan menunjukkan kerumitan-kerumitan sejati dari sebuah patung. Rupa dan kandungan gagasan yang serupa jugalah yang menginspirasi pembuatan patung GWK di Bali. Menjulang setinggi 121 meter ke angkasa dan berdiri 271 meter dari atas permukaan laut (dpl) di puncak bukit di Ungasan untuk dilihat semua orang dari semua penjuru.

Memuliakan patung

Memuliakan patung GWK sebagai ikon, membuatnya tidak bisa diciptakan dengan bahan yang sembarangan, selain juga ketahanan dari bahan-bahan monumen pada umumnya belum tentu sanggup menopang skala GWK. Riset yang menyeluruh harus dilakukan, dari tanah, kontur bentang alam, dan perencanaannya; struktur raksasa penopang patung, pedestal-nya yang sekaligus menjadi gedung, kulit patung dan teksturnya yang kaya unsur dan detail hingga ketahanannya terhadap gempa, cuaca, angin, dan waktu—GWK dirancang untuk dapat bertahan 100 tahun. Nyoman Nuarta selaku perancangnya lalu memilih tembaga dan kuningan sebagai muka kulit yang menentukan rupa GWK. Konturnya dirancang dalam sistem lapis-berlapis; susunan-susunan vertikal bertumpuk yang setiap tingkatnya dirancang sebagai modul besar yang kemudian diiris lagi, menjadi panel-panel rata-rata sepanjang 4 meter, dengan tinggi 3 meter, dan kedalaman bervariasi. Teknologi untuk menghasilkan rupa organik ini sebelumnya berhasil digunakan untuk membuat monumen Jalesveva Jayamahe di Surabaya, dan untuk GWK, didorong lebih jauh lagi.

Menurut pembuatnya, proses perancangan GWK menghasilkan beberapa patennya sendiri, beberapa teknologi dan pemecahan teknis harus diciptakan sendiri. Tembaga, misalnya, adalah bahan terbaik untuk dapat menghadirkan lekuk-lekuk organik dan detail-detail yang mengisi karakter dari patung GWK dalam identitas budaya. Namun, tembaga yang mudah dibentuk ini juga mudah berubah, bahkan pada suhu-suhu panas dan tekanan yang tidak terlampau tinggi. Diciptakan struktur yang lebih detail untuk memperkuatnya dalam segitiga-segitiga yang saling menyambung lempeng-lempeng kecil tembaga tersebut.

Proses ini dikerjakan perlahan-lahan dan dengan teliti, menyambung satu per satu lempeng menggunakan tangan-tangan terampil, dari modul ke modul, lapisan ke lapisan hingga disusun sepenuhnya. Menempelkan kulit ini ke dalam struktur raksasa juga menjadi tantangan tersendiri sehingga diciptakan struktur rangka rumit yang presisi untuk menopang permukaan yang rinci—layaknya potongan-potongan puzzle raksasa. Bukit Ungasan yang tadinya sebuah tambang batu kapur besar, gersang, dan tandus, didayagunakan konturnya dan direspons dalam pembangunan GWK. Ia dibangun di antara balok-balok tebing batu kapur raksasa, menciptakan ceruk-ceruk dan yang diolah untuk diisi dengan satu kompleks menyeluruh yang terpusat pada patung GWK, menjadi pusat pariwisata yang lengkap dan memiliki efek pelipatgandaan kepada lingkungan dan masyarakat yang besar.

Dengan demikian, GWK tidak hanya menjadi suatu karya seni, tetapi juga terobosan ilmu dan teknologi. Dunia pengisahan tradisi dan kandungan kosmologinya, berada di zaman sekarang dengan sebenar-benarnya, yang menubuhkan dirinya lewat perkembangan terkini untuk mewujudkan inti gagasan dan semangat yang serupa ke tingkatan berikutnya. Inilah, yang rasanya juga merupakan mimpi besar masyarakat kita, sepanjang menghayati hidup sebagai bangsa, dan gagasan-gagasan pendahulu yang menyatukan kepercayaan orang-orang sebagai suatu masyarakat yang berdaya, untuk bebas menentukan nasibnya sendiri dalam arus zaman: yang merdeka.

Perjalanan GWK sudah mencapai 29 tahun dan itu tidaklah mudah. Sejak digagas tahun 1989, baru pada pertengahan 1990-an tanah bukit kapur di Ungasan mulai diolah dan pengerjaan patung dimulai di Bandung. Kepala Garuda yang sedang dibangun sempat terbakar habis pada 1997. Baru sejak 2013 hingga kini, GWK kembali ke tempo semestinya. Perhatian perlahan mulai bercabang; beberapa menentang, seirama dengan nada protes terhadap komersialisasi lahan serta seolah ”dijualnya” budaya Bali kepada khalayak pengunjung. Banyak yang juga kemudian melihatnya sebagai perwujudan identitas, kisah besar, filosofi, dan juga laku hidup. Pada awal Agustus 2018 nanti, GWK diperkirakan selesai pengerjaannya. Kita akan melihat satu monumen yang akan mencuatkan bangsa ini pada ranah percaturan kebudayaan dunia.

Oleh : Ari Respati

Harian Kompas, 14 Juli 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *