Wisata Kepulauan Seribu

KEPULAUAN SERIBU

Mengubah Waktu Petualangan di Pulau Tidung

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU

Beberapa wisatawan menikmati suasana matahari terbit dari sisi barat Pulau Tidung, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Selasa (19/6/2018). Lokasi ini merupakan alternatif untuk menikmati suasana serupa yang pusatnya ada di sisi timur Pulau Tidung. Kompas/Kurnia Yunita Rahayu.

Mengubah waktu bertualang bisa memberi kesan berbeda. Perjalanan sore ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta, semakin membuat pelancong dekat dengan alam di sana. Anda layak mencobanya.

Pulau Tidung makin masyhur beberapa tahun belakangan. Daya tarik pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, ini mempesona para pengunjung. Pasir putih, panorama bawah laut, museum ikan paus, prasarana olahraga air, dan jembatan cinta bagai magnet yang bersemayam di nusa indah ini.

Jika ingin mencari pengalaman berbeda, anda bisa mengubah waktu petualangan yang biasa dilakukan orang. Dengan cara ini, perjalanan anda menjadi lebih tenang, tanpa harus bertemu banyak pelancong lain, sebagaimana saran Munawar (25), salah satu penyedia jasa wisata di Pulau Tidung, Senin (18/6/2018).

Umumnya, pengunjung mengawali petualangan dengan mengeksplorasi sisi timur Pulau Tidung dari siang hingga sore, lalu ke sisi barat untuk menikmati matahari terbenam. Keesokan hari, wisatawan kembali ke sisi timur untuk menyaksikan matahari terbit. Salah satu obyek Jembatan Cinta.

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU

Kapal-kapal tradisional hendak berangkat dari Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke, Jakarta Utara, menuju ke Kepulauan Seribu. Kompas/Kurnia Yunita Rahayu.

Namun, ada pilihan lain untuk menikmati wisata di sana dengan mengawali perjalanan menjelang matahari tenggelam, lalu berjalan ke sisi timur pulau. Perjalanan dari dermaga hingga pantai sejauh 1,5 kilometer ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit.

Ketika sampai di bibir pantai, hamparan pasir putih membentang dengan laut yang tenang. Debur ombak tidak henti-hentinya bergerak ke tepian mengempas pasir. Pada saat yang sama, udara segar mengembus bersama angin menyejukkan raga. Kenikmatan ini serasa mewah, tanpa terganggu dengan pelancong lain. Hmm, segar sekali….

Tak jauh dari sini, terbentang Jembatan Cinta yang sebagian melengkung menuju Pulau Tidung Kecil. Dapat dijamin, jepretan kamera di tempat ini bakal membuat orang lain penasaran ingin ke sana. Sore itu, saya melihat beberapa orang memancing di atas tumpukan beton yang disusun sepanjang 50 meter menuju ke laut.

Daratan Pulau Tidung Kecil merupakan wilayah konservasi. Selain  mangrove, ada pula tumbuh-tumbuhan yang bisa dinikmati hasilnya di antaranya kelapa, jambu air, dan sukun. Adapun sukun merupakan salah satu tumbuhan khas andalan warga.

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU

Wisatawan menantang adrenalin dengan meloncat dari Jembatan Cinta. Kompas/Kurnia Yunita Rahayu.

Makam dan museum

Menurut Munawar, sejak dahulu Pulau Tidung Kecil tidak berpenghuni. Warga Kepulauan Seribu menggunakan pulau ini sebagai lahan pertanian. Di pulau ini, ada dua makam misterius yang disebut sebagai makam Panglima Hitam dan Sultan Mahmud. Keduanya dikeramatkan, meski tidak diketahui asal-usulnya.

Melengkapi perjalanan, anda bisa singgah di Museum Paus yang menyimpan rangka ikan paus sepanjang 13 meter. Warga memperkirakan berat paus itu mencapai 8 ton saat hidup.

Setelah dari Pulau Tidung Kecil, anda dapat melewatkan hari di sisi timur pulau. Penginapan di sini berupa rumah warga dengan tarif mulai Rp 300.000 per malam untuk satu rumah. Dalam rumah itu, ada dua kamar yang bisa dipakai pelancong. Cukup bersih dan layak sebagai tempat istirahat.

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU

Wisatawan memperhatikan rangka ikan paus yang ada di Museum Paus, Pulau Tidung Kecil, Kelurahan Pulau Tidung, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Senin (18/6/2018). Kompas/Kurnia Yunita Rahayu.

Esok harinya, petualangan dapat anda lanjutkan ke sisi barat Pulau Tidung Besar. Di sana anda dapat menikmati suasana yang berbeda dengan pulau di sisi timur.

Sisi timur pulau merupakan wilayah permukiman padat, sebagian besar rumah digunakan sebagai penginapan. Sementara itu, sisi barat didominasi hutan belantara. Kepadatan warga pun semakin jauh, dengan bentang jarak antarrumah warga sekitar 50 meter.

Jalan utama adalah jalan tanah yang dengan lebar sekitar 1,5 m. Rumput dan alang-alang yang tumbuh tinggi memenuhi pemandangan di kanan dan kiri. Selain itu, tentu saja, pohon kelapa dan sukun bertebaran di mana-mana.

Petualangan suasana di sisi barat lebih menjanjikan dan menarik. Berjalan di sana bagaikan menelusuri jalan tak berujung karena tidak ada petunjuk jalan. Ada perasaan khawatir sekali-sekali karena bagai berada di alam bebas.

Namun, itu semua terbayar ketika memasuki pantai. Matahari terbit begitu dekat seperti di atas kepala. Momen itu tiba saat udara segar mengembus badan. Sejenak, saya biarkan tubuh saya terempas angin sepoi-sepoi yang hadir bersamaan dengan hangat sinar matahari.

Tidak jauh dari sana, ada area yang akrab disebut Saung Cemara Kasih. Di hadapan saung-saung bambu itu, tersedia alat permainan sederhana yang dibuat dengan tali tambang dan kayu untuk berayun, loncat indah, dan melatih keseimbangan dengan berjalan di atas tambang.

Sayangnya, di tempat itu tidak ada fasilitas kamar mandi yang layak. Sebanyak dua kamar mandi yang tersedia tidak beratap penuh. Pintunya pun tidak terpasang utuh. Bahkan, sebagian pintu berlubang cukup besar. Pekerjaan rumah bagi pemerintah dan pihak terkait jika ingin menarik lebih banyak wisatawan.

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU

Wisatawan menikmati suasana matahari terbit di sisi barat Pulau Tidung. Kompas/Kurnia Yunita Rahayu.

Tanpa paket liburan

Menikmati perjalanan yang tidak umum dipilih orang harus siap dengan segala risiko yang ada. Anda dapat memilih sendiri sesuai kebutuhan.

Suhamdi (40), penyedia jasa wisata, menjelaskan, paket liburan terdiri dari tiket kapal tradisional pergi-pulang, sewa penginapan, dan katering selama berlibur. Paket itu sudah termasuk penyewaan alat penyelaman dangkal (snorkeling),banana boat, dan sepeda untuk mobilitas di sepanjang pulau.

Bagi yang berangkat tanpa melibatkan jasa agen wisata, perlu usaha lebih untuk memenuhi kebutuhan selama di sana. ”Kami hanya menyewakan sepeda untuk orang-orang yang ikut paket perjalanan,” kata Mahmud (48), penyedia jasa wisata.

Untuk menelusuri pulau, pelancong mandiri harus menaiki becak motor (betor) dengan tarif Rp 20.000 per perjalanan. Atau pilihan terakhir, yaitu berjalan kaki!

Sementara itu, berjalan kaki di Pulau Tidung relatif tidak nyaman. Dari dermaga utama, hanya ada satu jalan menuju sisi timur pulau. Jalan di sana tersedia dengan lebar 1,5 meter berupa paving block yang sebagian besar sudah mencuat ke atas sehingga jalan tidak rata.

Pejalan kaki harus berebut ruang jalan dengan berbagai kendaraan, seperti bentor, sepeda, dan sepeda motor. Tidak jarang, pejalan kaki harus memepetkan diri ke tembok atau pagar rumah warga untuk mengantre jalan.

Perlu diketahui bagi pengunjung Tidung, pilihan makanan bagi wisatawan di sana tidak banyak ragamnya. Di luar jajanan yang lazim ditemui di tempat wisata, warga Tidung menyediakan makanan khas olahan buah sukun dan ikan. Anda bisa membawanya sebagai buah tangan untuk keluarga atau teman.

Lokasi

Perjalanan menuju Pulau Tidung bisa dimulai dari beberapa pelabuhan, di antaranya Marina Ancol dan Kaliadem, Jakarta Utara.

Terdapat tiga pilihan kapal untuk menyeberang, yaitu kapal kayu tradisional milik warga Pulau Tidung, Kapal Motor (KM) Express Bahari, dan kapal cepat (speedboat) Sea Leader Marine. Ketiganya menawarkan layanan dan durasi perjalanan berbeda. Tentu dengan harga yang berbeda pula.

Harga tiket untuk kapal kayu tradisional adalah Rp 50.000 per orang untuk sekali perjalanan, sedangkan tiket KM Express Bahari dijual seharga Rp 75.000 per orang. Sementara itu, untuk menaiki kapal cepat, harganya adalah Rp 150.000 per orang.

Seiring dengan nama Pulau Tidung yang makin tersohor, infrastruktur pariwisata pun perlu dibenahi. Apalagi, jumlah pelancong yang datang tak pernah sepi. Berdasarkan data dari Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu, pada musim Lebaran, 9-19 Juni 2018, jumlah wisatawan di seluruh gugusan Kepulauan Seribu mencapai 82.545 orang.

”Sebagian besar infrastruktur liburan dan promosi disiapkan secara mandiri oleh warga,” kata Munawar. Oleh karena itu, butuh pembenahan di sana-sini agar pariwisata bahari di Ibu Kota itu dapat dioptimalkan. (Kurnia Yunita Rahayu)

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU

Suasana jalan utama di sisi barat Pulau Tidung, Selasa (19/6/2018). Alat transportasi utama yang digunakan warga dan wisatawan untuk berpindah tempat adalah sepeda dan sepeda motor. Kompas/Kurnia Yunita Rahayu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *