Ekspedisi Alat Musik Nusantara

EKSPEDISI ALAT MUSIK NUSANTARA

Meliput Sekaligus Berlibur Menikmati Gamelan Bali

KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH

Tim Ekspedisi Alat Musik Nusantara Kompas tengah bekerja meliput gamelan Bali.

Ke Bali, bekerja atau berlibur sama saja rasanya. Senang, gembira, bahagia. Perjalanan tim Ekspedisi Alat Musik Nusantara ke Bali 6-13 Juli lalu membuktikan bahwa pesona Bali selalu berhasil membuai orang yang datang ke sana dengan ‘rasa liburan’ meski untuk keperluan pekerjaan.

Bali, sang pulau dewata, identik sebagai salah satu tujuan pariwisata. Siapa pun yang berkunjung ke Bali, walaupun untuk keperluan pekerjaan, sulit untuk menghilangkan kesan berlibur yang sudah telanjur melekat pada Bali.

Tim Ekspedisi Alat Musik Nusantara edisi Bali kali ini pun berangkat ke Bali dengan riang gembira, berusaha tanpa beban. Namanya juga ke Bali kan?

Tim berangkat pada tanggal 6-13 Juli, di tengah kondisi Gunung Agung yang sedang batuk-batuk.

Tim Bali terdiri dari Dwi AS Setianingsih (reporter), Wisnu Widiantoro (fotografer), Septa Inigopatria Gunarso (desain grafis), Danial A Kurniawan (videografer), dan Putu Fajar Arcana (redaktur) yang adalah putra Bali.

Keberadaan Putu di tim ini memang kami sengaja. Putu, dimaksudkan menjadi semacam pembuka jalan, menjadi navigator bagi peliputan di Bali. Sebagai putra Bali, Putu mengenal baik Bali, begitu juga dengan  jaringan dengan sumber-sumber berita di Bali.

KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH

Tim peliput menyimak penjelasan dari salah seorang narasumber di Bali.

Ada teman kami yang memang secara organik bertugas di Bali, yaitu Ayu Sulistyowati dan Cokorda Yudhistira. Namun karena keduanya sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing, baik Ayu maupun Cok, panggilan akrab mereka, tak terlibat dalam tim. Sayang sebenarnya mengingat Bali adalah ‘wilayah kekuasaan’ mereka.

Tim berangkat pada tanggal 6-13 Juli, di tengah kondisi Gunung Agung yang sedang batuk-batuk. Kami sempat was-was dan maju mundur saat berencana membeli tiket dan mengurus akomodasi peliputan di Bali. Beruntung, saat akhirnya kami berangkat dan berada di Bali, Gunung Agung sangat kooperatif. Membuat seluruh rencana kami berjalan lancar.

Kami ingat, saat kami mendarat di Bandara Ngurah Rai, kami disambut tulisan besar pada dinding bandara: “Welcome To Bali Airport Enjoy Your Holiday” (Selamat datang di Bandara Bali selamat menikmati liburan Anda). Tentu kami sempatkan berfoto di dekat dinding di terminal kedatangan tersebut. Di benak kami, tulisan itu bernada satir. Kami ke Bali untuk bekerja, bukan untuk berlibur!

Sebagai pembuka jalan, Putu sudah mendahului kami berempat. Dia tiba di Bali tanggal 5 Juli. Hal ini antara lain karena Putu tidak akan bergabung bersama tim hingga selesai. Sebagai redaktur, tugas lain telah menanti di ruang redaksi.

Fokus liputan kami kali ini adalah gamelan. Memang, gamelan sudah pernah diulas oleh tim ekspedisi terdahulu. Kala itu, ekspedisi mengangkat gamelan Jawa dengan fokus peliputan di Yogyakarta dan Solo.

KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH

Berpose sebelum melakukan peliputan di Bali.

Kali ini, kami kembali memilih mengangkat gamelan Bali karena selain dari sisi instrumen berbeda dengan gamelan Jawa, di Bali yang kondisi keseniannya bergairah, gamelan Bali begitu eksis, menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kondisi ini sangat menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Siapa tahu model pengembangannya dapat ditiru oleh alat-alat musik Nusantara lainnya kelak.

Kebetulan, dalam rentang keberadaan kami di Bali, tengah berlangsung Pesta Kesenian Bali. Tahun ini, even kesenian besar yang digelar selama 1,5 bulan itu mencapai usia 40 tahun. Sepanjang perhelatan PKB itu, berbagai jenis kesenian Bali pun dipertunjukkan bagi masyarakat. Gratis.

Lokasinya di Art Centre Bali atau Taman Budaya Bali yang terletak di kawasan Denpasar Selatan, berdekatan dengan Institut Seni Indonesia Denpasar. Saat pembukaan PKB tanggal 23 Juni, Presiden Joko Widodo juga hadir bersama Ibu Negara Iriana. Sangat meriah.

Meramaikan pesta kesenian

Seperti warga Bali yang selalu menyambut hangat Pesta Kesenian Bali, kami pun turut meramaikan gelaran itu. Terlebih liputan kami kali ini yang berfokus pada gamelan Bali, yaitu gong kebyar, banyak ditampilkan di ajang ini. Gong kebyar ini biasa ditampilkan di akhir hari, yaitu pukul 20.00 WITA, nyaris setiap hari hingga selesai menjelang larut malam di panggung terbuka Ardha Candra.

Dalam kehidupannya Bali tak lepas dari budaya dan kesenian. Kegiatan spiritualnya pun yang bersifat sakral, masyarakat Bali melibatkan irama musik sebagai bagian dari proses sakral, salah satunya adalah gamelan.

Ada gong kebyar khusus dewasa. Ada gong kebyar khusus wanita. Juga ada gong kebyar khusus anak-anak. Semuanya menarik dan sangat beragam. Keterlibatan anak-anak dan wanita menjadi indikasi menarik dalam perkembangan gamelan Bali.

Penontonnya pun luar biasa. Meski acara baru dimulai pukul 20.00 waktu setempat, mereka sudah memadati lokasi sejak sore. Bahkan tempat duduk yang tersedia di sekitar panggung sudah dipenuhi sejak pukul 18.00. Tua, muda, remaja dan anak-anak, tumpah ruah menjadi satu.

Para pejabat daerah juga hadir. Terutama pejabat dari daerah yang malam itu kelompok keseniannya alias duta keseniannya tampil. Mereka ditempatkan di tempat duduk bagian depan, dekat dengan bibir panggung.

Dengan jumlah penonton yang meluap, kira-kira mencapai 7.000 – 8.000 orang sesuai kapasitas Art Centre, sudah dipastikan bukan hal mudah untuk mendapat posisi terbaik. Selain spot di depan bibir panggung yang sangat terbatas, berebut dengan para peliput lain, kami juga harus berebut dengan penonton yang membeludak.

Akhirnya, setelah berkomunikasi dengan Stage Manager Pesta Kesenian Bali, saya dan Putu mendapat posisi di depan panggung. Namun bagi teman-teman lain yang harus mengambil gambar, tetap saja mereka kesulitan mendapat gambar terbaik.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Tarian Legong Duduk yang ditampilkan dalam Parade Gong Kebyar yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Pesta Kesenian Bali 2018 Taman budaya Bali, Denpasar, Jumat (6/7/2018). Gerakan-gerakan dalam Tari Legong merupakan respons terhadap suara gamelan yang mengiringinya.

Di beberapa peliputan akhirnya kami malah hanya mengambil suasana pertunjukan dari posisi terjauh. Danial, beberapa kali juga mengambil gambar menggunakan drone.

Di luar urusan peliputan, suasana di Pesta Kesenian Bali, sepanjang perhelatan sesungguhnya sangat mengasyikkan. Para penampil jelas bukan penampil kelas ecek-ecek sehingga penonton pun betah berlama-lama di tempat duduk mereka. Padahal bila dipikir-pikir, gong kebyar dan tari-tarian yang ditampilkan di panggung ajang itu merupakan makanan sehari-hari warga Bali.

Di Banjar, umumnya warga bergabung dalam kelompok gong kebyar. Mereka berlatih bersama di balai banjar yang umumnya memiliki seperangkat gamelan lengkap. Banyak juga yang bergabung di sanggar-sanggar seni. Di Bali, jumlah sanggar seni membeludak, sesuai dengan minat warga Bali yang amat tinggi pada dunia kesenian.

Di Sanggar Paripurna yang dikelola oleh seniman I Made Sidia misalnya, anggotanya mencapai 600 orang. Kebanyakan anak-anak. Luar biasa menyaksikan betapa sejak dini, di Bali, minat terhadap kesenian sudah diasah sedemikian rupa.

Dan meski seni ibaratnya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat Bali, even-even seperti pesta kesenian justru tidak kesulitan penonton. Acara itu tetap membeludak, tetap mampu menyedot perhatian penonton.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Penampilan salah satu grup Gong Kebyar dalam Pesta Kesenian Bali 2018 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Selasa (10/7/2018).

Animo warga saat menyaksikan gong kebyar adalah buktinya. Meski pertunjukan berlangsung berjam-jam, nyaris seluruh penonton tak beranjak, menikmati sajian pertunjukan hingga usai. Dan kondisi itu, selalu terjadi setiap hari saat gong kebyar ditampilkan di panggung.

Memang, bila diamati, penonton yang datang umumnya datang berombongan. Selain bersama keluarga inti, banyak penonton yang datang bersama orang tua atau mertua. Selain menonton pertunjukan, mereka juga terlihat menikmati beragam makanan yang disajikan di area acara.

Rini Wulandari, warga Bali yang tinggal di kawasan Kerobokan mengatakan, Pesta Kesenian Bali adalah kesempatan untuk tak sekadar menikmati pertunjukan seni yang ditampilkan, namun lebih dari itu, justru jajanan yang dijual di sana. Banyak makanan tradisional Bali yang muncul di acara ini. Seperti laklak, klepon, tipat, pisang rai, kuah pindang, dan es daluman.

Pesta kuliner itu pun dirayakan oleh kedua teman kami, Wisnu dan Septa. Keduanya selalu bersemangat menjajal makanan yang ada di lokasi PKB, khususnya sate. Keduanya kerap saling berbagi wadah, dan menikmati makanan incaran mereka itu di sela-sela liputan.

Ala turis

Di luar arena pesta keseninan, ‘kulineran’ pun jalan terus. Oleh Putu, kami diajak ke tempat-tempat kuliner beken yang juga menjadi buruan para turis baik lokal maupun mancanegara. Seperti nasi ayam kedewatan Ibu Mangku yang ada di Ubud, Be Sanur yang menyajikan hidangan ikan, juga Lesehan Mertasari saat kami menuju Klungkung. Rasanya justru seperti ekspedisi kuliner. Yang tertancap di benak adalah makanan-makanan yang semuanya enak.

Begitu juga dengan acara jalan-jalan di sela-sela liputan yang lumayan padat, tetap kami sempatkan. Seperti ketika kami mampir ke Jatiluwih di Tabanan, ikut-ikutan mencari matahari terbenam di pantai Double Six Seminyak seperti para turis, juga menyaksikan pembangunan kembali Garuda Wisnu Kencana yang telah terbengkalai nyaris hampir 30 tahun. Cukuplah mengobati hasrat kami untuk berlibur di Bali.

KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIH

Meliput kegiatan kesenian di Bali.

Apalagi selama di Bali, kami sempat menginap di beberapa hotel yang masing-masing memiliki daya tarik luar biasa. Bagus-bagus dengan harga yang sangat terjangkau. Bekerja, lagi-lagi serasa liburan.

Teman kami Wisnu malahan sudah berencana mengajak keluarganya berlibur ke Bali. Tak heran setiap kali kami berkunjung ke tempat-tempat yang menarik, dia segera mencatat detail informasi tempat tersebut dan mengirimkannya kepada sang istri di rumah. Bali, memang selalu menjadi impian untuk berlibur.

Kembali ke Jakarta, sedikit pertanyaan terbersit di benak kami. Dari beberapa pelaku industri pariwisata di Bali, kami mendengar sekelumit kisah tentang merosotnya kunjungan wisatawan ke Bali.

Konon, Bali saat ini hanya menjadi tempat transit belaka. Turis lebih banyak yang memilih berlibur ke Labuan Bajo atau Lombok. Begitu juga erupsi Gunung Agung yang sempat membuat pariwisata Bali terganggu beberapa waktu lalu.

Bagi pelaku bisnis perhotelan, kondisi itu menyebabkan kompetisi yang amat ketat. Tidak mengherankan apabila banting harga kamar banyak terjadi di Bali. Yang penting, kamar terisi.

Mudah-mudahan, persoalan-persoalan yang membelit Bali, tak membuat pesonanya luntur.

Di sisi lain, pelaku seni pahat yang dulu amat populer di Bali pun terus menyusut. Anak-anak muda Bali tak banyak yang berminat menggeluti seni pahat atau patung. “Sekarang, mereka lebih senang bekerja di kapal pesiar. Karena lebih cepat mendatangkan uang,” ujar Ida Bagus Foriyana, seniman pahat di kawasan Mas, Ubud.

Hal serupa juga terjadi di usaha rumahan pembuatan gamelan yang banyak bertebaran di kawasan Tihingan, Klungkung. Anak-anak muda, banyak yang enggan bekerja kotor dan lebih memilih pergi ke kota. Padahal, dari sisi permintaan, pasar gamelan begitu luar biasa.

Bali yang penuh pesona, yang membuat orang-orang yang datang bekerja pun merasa berlibur, menyimpan baranya seorang diri. Mudah-mudahan, persoalan-persoalan yang membelit Bali, tak membuat pesonanya luntur. Dan Bali, tetap menjadi salah satu primadona pariwisata Indonesia yang selalu dirindu. Yuk, ke Bali…

Oleh : Dwi As Setianingsih

Kompas Minggu, 29 Juli 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *