PKB – Bahan Bakar Kebudayaan

PESTA KESENIAN BALI

Bahan Bakar Kebudayaan

Kompas Minggu, 29 Juli 2018

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO (NUT)

Ketua Sanggar Paripurna, I Made Sidia berlatih bersama anggotanya di sanggarnya di Desa Bona, Blahbatuh, Gianyar, Bali, Minggu (8/7/2018)

Pesta Kesenian Bali jadi bahan bakar yang menggerakkan elemen kebudayaan. Bahkan, faktor-faktor yang menyangkut religi dan industri pun mendapat pasokan energi besar untuk terus berlangsung dan kemudian mewarnai karakter, identitas, dan pola perilaku manusia Bali.

Kesadaran inilah yang melahirkan Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 1978, ketika Gubernur Bali Prof Dr Ida Bagus Mantra (alm) saat itu, menggelar pesta seni rakyat tahunan ini untuk pertama kalinya. Dalam suatu wawancara dengan Kompas, Mantra menegaskan, awalnya PKB jadi katalisator untuk mengangkat citra rendah diri memanggul identitas Bali. Sebagai etnis minoritas di Indonesia, orang Bali sangat malu menonjolkan diri, bahkan sekadar mengenakan busana adat Bali.

Pada awal 1970-an, sebagaimana diingat peneliti kebudayaan asal Perancis Dr Jean Couteau, untuk bersembahyang ke pura orang Bali baru mengenakan busana adat sesaat sebelum masuk area suci pura. ”Di perjalanan mereka hanya mengenakan baju sehari-hari, lalu di depan pura baru pakai baju adat,” kata Jean, Senin (9/7/2018), di Denpasar.

Sebenarnya, menurut Jean, terjadi paradoks antara kondisi orang Bali yang ”minderan” pada masa 1970-an dengan fenomena kedatangan para peneliti Barat. Bahkan, sejak 1920-an Bali sudah jadi pulau kecil yang banyak ditulis pada berbagai buku oleh para sarjana asing. Logika lurusnya, kebudayaan dan manusia Bali banyak terpublikasi di dunia sehingga harusnya mengukuhkan kebanggaan menjadi manusia Bali. ”Tetapi hal itu tidak terjadi karena orang Bali cuma jadi obyek. Mereka orang yang digarap asing,” ujar Jean.

Setelah kira-kira PKB berlangsung 10 tahun, perlahan terjadi migrasi artefak-artefak kebudayaan dari desa ke kota. Migrasi ini, kata Jean, dipikat oleh pelaksanaan PKB, di mana orang di desa-desa merasa perlu mengakses modernisasi. Akan tetapi, migrasi ini mengandung bahaya besar bagi kebudayaan Bali sendiri. ”Karena akan ada formalisme kebudayaan lalu meninggalkan simbol-simbol yang justru berisi tuntunan moral,” katanya.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO (NUT)

Pekerja menyelesaikan pembuatan gamelan bali di kerajinan Gamelan Sidha Karya di Banjar Babakan, Blahbatuh, Gianyar, Bali, Sabtu (7/7/2018)

Kulminasi

Ketua Umum Listibiya (Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan Bali) Prof Dr I Made Bandem mengatakan PKB adalah titik kulminasi dari satu proses kerja kesenian yang dilakukan di desa-desa. ”Mereka bisa latihan selama 6 bulan di desa sebelum tampil di PKB,” kata Made Bandem.

Proses kerja kesenian yang lama itu menjawab pertanyaan mengapa orang Bali begitu antusias mendatangi PKB setiap tahun. Pada Jumat (6/7), misalnya, panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar, penuh sesak. Para penonton bahkan datang dari Gianyar dan Karangasem, dua kabupaten yang sedang menampilkan parade gong kebyar. Kapasitas Ardha Candra, kata Bandem, sekitar 8.000 orang. ”Bisa jadi penontonnya lebih dari 8.000, kalau dihitung mereka yang tidak kebagian tempat duduk. Dan itu terjadi setiap malam,” katanya.

Selama pelaksanaan PKB ke-40, 23 Juni-23 Juli 2018, menurut data Listibiya, ada 271 pergelaran yang melibatkan lebih dari 20.000 seniman. Mobilisasi puluhan ribu seniman setiap tahun ”hanya” untuk ajang seperti PKB, kata Bandem, sudah bisa dijadikan parameter bahwa tungku kebudayaan Bali terus menyala sepanjang tahun. PKB kemudian mengimbas pada beberapa hal yang bersangkut-paut dengan penyelenggaraan kesenian untuk ritual dan pertunjukan hiburan. ”Ini sudah jadi capital culture yang luar biasa bagi Bali,” ujar Bandem.

Dari sisi ritual, PKB berperan besar menumbuhkan kesadaran mempersembahkan seni terbaik pada Sang Hyang Widhi. Dulu, para penari sakral hanya berlatih tiga hari sebelum menari untuk ngayah (persembahan tulis dan ikhlas) di pura. Kini, mereka berlatih berbulan-bulan untuk mempersembahkan yang terbaik. ”Ada perbaikan kualitas tarian,” kata Bandem.

PKB juga mendorong tumbuhnya berbagai kelompok kesenian di desa. Data Listibya menunjukkan tahun 2015 terdapat 10.049 kelompok kesenian di seluruh Bali. Data ini menanjak tajam dari pemetaan yang dilakukan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar dan Universitas Udayana Denpasar tahun 1992 yang mencatat 6.512 kelompok kesenian. Data terakhir dari Dinas Kebudayaan Bali, sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan Bali Dewa Putu Beratha, kini terdapat sekitar 10.918 kelompok gamelan di Bali.

”Sedangkan gamelan Bali di luar negeri mencapai 350 kelompok,” kata Beratha. Jika dibandingkan dengan jumlah desa di Bali yang berjumlah 636 desa, berarti di setiap desa terdapat lebih dari 10 kelompok kesenian.

Pencapaian ini sangat diapresiasi oleh peneliti kebudayaan seperti Jean Couteau. Walau di sisi lain ia sangat khawatir formalisme agama dan seni sebagai fenomena ikutan PKB, hanya akan membawa kemegahan pada kulit luar dalam kebudayaan Bali. Orang pergi ke pura, bukan karena kesadaran akan pentingnya menata mentalitas religius, tetapi untuk menunjukkan model terbaru kebaya atau kain.

Setelah 40 tahun PKB berjalan, orang Bali tidak lagi minder mengenakan busana adat Bali di mana pun berada. Apalagi pada era ketika lokalitas benar-benar dibutuhkan dalam rangka memperkuat kepribadian bangsa seperti saat ini. (CAN/DOE)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *