Seniman Topeng Malang

M Soleh Adipramono Penjaga Wayang Topeng Malang

Oleh : Defri Werdiono

Harian Kompas, 26 Juli 2018

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

M Soleh Adipramono

Berbicara seni wayang topeng malang tidak bisa dipisahkan dari sosok M Soleh Adipramono (67). Di usianya yang tak muda lagi, ia terus “bergelut” dengan wayang topeng. Sang maestro ingin agar kesenian turun temurun itu tidak berhenti sampai pada dirinya, tetapi bergulir sampai anak cucu.

Di pendopo padepokannya yang rindang, di Dusun Kemulan, Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (22/7/2018), pria yang akrab disapa Ki Soleh itu memberikan sedikit komentar soal rebab dan siter. Ia mengaitkan dua alat musik berdawai miliknya itu dengan isi relief Candi Jajaghu atau Candi Jago yang berada sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya.

Di depannya, belasan cantrik, duduk lesehan. Mereka mendengarkan seksama apa yang disampaikan oleh sang guru. Siang itu Ki Soleh didapuk menjadi salah satu narasumber diskusi “Telusur Waditra (instrumen) Dawai” dalam rangka Festival Dawai Nusantara #4. Diskusi kecil itu makin gayeng setelah Ki Soleh membawakan tembang Jawa dengan iringan alat musik Suku Dayak, sape.

Hari-hari Ki Soleh lebih banyak bersinggungan dengan seni. Selain koreografer dan sesekali mengajarkan tari di Padepokan Mangun Dharma yang ia dirikan pada 1989, Ki Soleh juga kerap menjadi pembicara di sejumlah acara, baik di Malang maupun luar kota. Karena kesibukan itu, tak mengherankan kalau tidak mudah jika orang ingin menemui dia.

Padepokannya yang berada di kaki barat Gunung Semeru sering menjadi tujuan tamu yang ingin menimba pengetahuan soal wayang topeng. Mereka bukan saja mahasiswa tetapi juga pelaku seni, baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa datang dari luar negeri antara lain Tibet, Amerika Serikat, Belanda, Inggris, dan Australia.

Hari-hari Ki Soleh lebih banyak bersinggungan dengan seni. Selain koreografer dan sesekali mengajarkan tari di Padepokan Mangun Dharma.

Sejumlah mahasiswa asing yang tengah mengikuti program belajar di beberapa kampus di Malang, juga datang ke tempat Ki Soleh. “Sekarang yang lebih banyak mengajar tari di padepokan adalah anak angkat saya, Bambang Supriono. Saya turun kalau ada penggarapan (pertunjukan),” ujarnya.

Ki Soleh menyebut jumlah muridnya saat ini mencapai 600 orang. Mereka tidak hanya belajar menari tetapi juga seni yang lain, di antaranya kuda lumping, bantengan, pedalangan, hingga karawitan. Sebagian dari mereka merupakan anak-anak desa setempat yang belajar secara cuma-cuma.

Di luar menari, hari-hari Ki Soleh juga diisi dengan membuat topeng panji. Topeng itu dibuat sebagai cenderamata untuk wisatawan. Maklum Tumpang sebagai kota kecil–yang berjarak sekitar 15 kilometer di timur Kota Malang–merupakan tempat transit bagi wisatawan menuju Bromo dan pendakian ke Gunung Semeru.

Selain topeng, Ki Soleh membuat wayang kulit. “Salah satu wayang kulit malangan yang kami buat saat ini menjadi koleksi Museum Panji Dunia di New York. Judulnya, Dewi Sri,” tuturnya.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

M Soleh Adipramono

Keluarga seniman

Keterlibatan Ki Soleh dalam seni tradisi berlangsung sejak kecil. Kakeknya, Ki Rusman seorang maestro wayang topeng dan telah membuat komunitas wayang topeng tahun 1916-1918. Begitu pula pakdenya (paman), Ki Tirtonoto merupakan dalang wayang kulit sekaligus pengajar di Sekolah Seni Koservatori Karawitan Surabaya. Ayahnya, Sapari, seorang dalang macapat.

Sang paman pula yang berhasil menyebarluaskan wayang topeng sampai ke daerah lain di Malang timur, seperti Jabung, Tamiajeng, Glagahdowo, hingga ke Pegunungan Tengger. Sisa-sisa seni tradisi di daerah ini saat ini masih ada, namun “sinarnya” tidak seterang Padepokan Mangun Dharma tempat Mbah Soleh berada.

Tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga seniman membuat Soleh menguasai banyak seni tradisi. “Ilmu wayang topeng dan mendalang saya peroleh dari pakde saya,” ujar pria yang pernah meraih berbagai penghargaan. Beberapa penghargaan yang pernah didapatkan Soleh adalah Seniman Kreator dari Gubernur Jawa Timur (2000), Pagelaran Wayang Topeng dari Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta (2017), dan Festival Dalang pada Pekan Wayang Jawa Timur 1997.

Sisa-sisa seni tradisi di daerah ini saat ini masih ada, namun “sinarnya” tidak seterang Padepokan Mangun Dharma tempat Mbah Soleh berada.

Meski tumbuh di lingkungan seniman, Ki Soleh mengaku kesadaran untuk menari baru muncul saat dirinya duduk dibangku SMP tahun 1969. Sebelumnya, sejak kecil ia sudah bisa menari. Namun, karena tempat tinggal ibunya di Dusun Wates, Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo, kurang mendukung untuk berkesenian, maka bakat terpendam itu baru benar-benar muncul saat Ki Soleh pindah ke Dusun Kemulan, lokasi padepokannya sekarang.

Di tempat inilah ia berproses menjadi maestro wayang topeng malang. Semula cerita wayang topeng umumnya diangkat dari kisah Mahabarata, Ramayana, hingga Menak. Namun, Ki Soleh memfokuskan cerita wayang topengnya pada kisah Panji Asmorobangun yang merupakan sastra asli peninggalan leluhur. Adapun lakonnya bisa berupa kelahiran Panji, pernikahan Panji, hingga sayembara sodo lanang. Pemilihan lakon dilakukan sesuai dengan konteks tujuan pentas.

Mata tertutup Menurut Ki Soleh tidak mudah belajar wayang topeng. “Kesulitannya tinggi karena mata ditutup, mulut tidak bisa ngomong. Tari topeng ini, kan, menarikan roh leluhur. Penari sebagai rogo wadah (fisik) dan topeng sebagai roh mukdas (roh leluhur). Menyatukan roh dengan penari yang masih hidup sulit,” katanya.

Selain kesulitan di atas, tantangan terbesar pelestarian wayang topeng malang adalah perkembangan zaman. Anak muda sekarang biasanya malu jika disuruh belajar menari, apalagi laki-laki. Anak muda sekarang lebih menyenangi hiburan yang ingar-ingar, seperti musik barat. Namun, Ki Soleh yakin suatu saat nanti mereka akan kembali menggemari seni tradisi.

“Itulah pentingnya sekolah dan sanggar mengajarkan seni tradisi. Jadi kuncinya kembali lagi pada kreatornya, bagaimana kita mengelola agar penari bisa bagus dan berkualitas,” kata Ki Soleh.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO

M Soleh Adipramono

Ki Soleh optimistis wayang topeng malang akan tetap lestari. Regenerasi wayang topeng berjalan terus. Dari keempat anaknya dan dua anak angkat (keponakan) semua senang berkesenian dan bisa menari wayang topeng. Salah seorang di antara mereka kini menjadi dosen kesenian di Universitas Sebelas Maret Solo. Satu lagi masih kuliah di jurusan kedokteran, dan dua lainnya menuntut ilmu di Amerika Serikat.

Sejarawan Universitas Negeri Malang M Dwi Cahyono berpendapat, di Malang terdapat dua sub-area utama seni wayang topeng. Apa yang digeluti Ki Soleh merupakan sub-area Tengger-Semeru yang wilayahnya mencakup sisi timur Kabupaten Malang. Sedang satu lagi sub-area Kawi-Kendeng yang ada di sisi selatan-barat Kabupaten Malang.

Di Sub-area Kawi-Kendeng ini masih ada juga wayang topeng malang yang eksis, yakni Padepokan Panji Asmorobangun di Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji.

M Soleh Adipramono

Lahir: Malang 1 Agustus 1951 Pendidikan: – SSD Wonomulyo – SSMP Wignyamandala Tumpang – SSMA Latihan IKIP Tumpang – SSMA Konservatori Karawitan Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *