Tokoh di Balik Perakitan GWK

DJUKI RIDWAN

Djuki Ridwan, “Konduktor” Pembangunan Patung GWK

KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

Djuki Ridwan (54), manajer proyek pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana di GWK Park, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (2/8).

Pembangunan patung raksasa Garuda Wisnu Kencana di Desa Ungasan, Kabupaten Badung, Bali selayaknya pertunjukkan musik orkestra. Djuki Ridwan (54) adalah “konduktor” yang menyelaraskan keterampilan 150 pekerja pilihan dalam membawakan karya Nyoman Nuarta. Ia bertungkus-lumus selama 28 tahun.

“Pak Djuki senyum, Pak Djuki senyum,” begitulah kira-kira seruan pekerja PT Siluet Nyoman Nuarta pada Selasa (31/7/2018) siang di lokasi proyek. Ia memperlihatkan video momen itu pada Kamis (2/8/2018). Serombongan pekerja itu mengarak keping terakhir yang diangkut truk menuju dasar patung.

Wajar saja para pekerja berseru-seru demikian. Sepekan terakhir adalah momen kritis pembangunan itu. Mereka terikat tenggat penyelesaian. Pemasangan modul itu harus kelar per 1 Agustus. Bidang yang harus mereka selesaikan adalah bagian atas ekor garuda, yang luasnya hampir setara hangar pesawat. Sementara, pasokan bahan baku sedang terkendala.

Faktor alam pun memberi tantangan tersendiri. Saat itu angin di Bukit Ungasan, tempat patung didirikan, sedang kuat-kuatnya. Konon kekuatan anginnya sampai 12 knot, setara 22 km/jam, yang bisa menggulingkan galon berisi air. Modul seberat 1,5 ton yang sedang dikerek crane, bisa berputar-putar. Modul adalah susunan keping tembaga yang berukuran sekitar 3×4 meter sebagai komponen kulit patung.

Waktu tenggat terus mendekat. Kesulitan-kesulitan itulah yang membuat senyuman di wajah Djuki—yang biasanya ramah—memudar.

Tak banyak yang bisa dilakukan mengatasi kekuatan angin, kecuali dengan mencermati perkembangan dari menit ke menit. “Soal bahan baku ini banyak teman yang membantu proyek GWK. Mereka memberitahu di mana bisa dapatnya,” kata Djuki. Ia adalah manajer proyek pembangunan patung.

Bahan baku, sebanyak 200 lempeng tembaga, akhirnya diperoleh dari Jakarta. Pengirimannya terbilang lancar sampai di tanjakan Ungasan, tak jauh dari lokasi. Nyoman Nuarta menuturkan, ada kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan macet berjam-jam. “Itu bikin pusing juga karena waktu tinggal tiga hari lagi,” kata Nyoman.

Sisa pekerjaan dikerjakan secara militan dalam tiga hari terakhir. Para seniman patung dan teknisi di bawah komando Djuki, diibaratkan Nyoman, bekerja seperti kesurupan, dan berhasil merampungkan modul-modul sayap atas itu pada hari terakhir di bulan Juli.

Modul dengan bobot sekitar 1,5 ton diangkut dengan truk dari lokasi bengkel menuju area bangunan, sekitar 500 meter, menggunakan truk. Pekerja ikut menumpang di truk, dan sebagian lainnya mengarak berjalan kaki. Djuki ada di antara mereka.

Suasananya gegap gempita sebab itulah kepingan-kepingan yang bakal menggenapi patung dengan total luas kulit berbahan tembaga dan kuningan mencapai 2,5 hektar. Mereka cemas penuh harap pekerjaan hari itu lancar.

Modul ke-754 mulai dikerek sekitar pukul 23.00. Ia akan ditempatkan di titik tertinggi dan paling belakang patung dengan bentuk menyerupai jambul. Ruang bagi pekerja di sisi itu tergolong sempit. Sekitar 15 menit menjelang pukul 00.00 modul terakhir terpasang, menggenapi keutuhan patung. Bendera merah putih pun dipancangkan. Mereka bersorak dan berpelukan. Djuki menyeka air mata.

“Itu momen paling mengharukan. Kalau diingat-ingat, saya jadi cengeng, deh,” katanya dengan sorot mata menyendu.

KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

Area plaza patung Garuda Wisnu Kencana masih dalam tahap perampungan prasarana jalan seperti terlihat pada Jumat (3/8/2018).

Teknik pembesaran

Tak heran dia terharu. Djuki ada di proyek ini sejak di tahap perencanaan, tahun 1989. Jika diibaratkan anak, proyek itu berumur lebih tua dari anak sulungnya, Julian Pratama Ridwan, yang kini berumur 21 tahun.

Ketika bergabung di proyek GWK, Djuki baru dua tahun bekerja untuk Nyoman Nuarta, sebagai staf divisi teknologi informatika. Kala itu Nyoman sedang mengerjakan Monumen Jalesveva Jayamahe (Monjaya) di Surabaya, yang terpasang pada 1993.

Tinggi patung sosok perwira angkatan laut itu 30 meter. Ukurannya yang besar sudah menantang bagi Djuki. Maka begitu tahu Nyoman merencanakan patung berikutnya yang jauh lebih besar, Djuki teguh menerima tantangan itu. Pengerjaan proyek Monjaya dilakukan simultan dengan perencanaan Garuda Wisnu Kencana.

Patung Monjaya dikerjakan dengan teknik pembesaran. Nyoman membuat patung dalam ukuran lebih kecil sebagai model. Djuki, sebagai staf yang menangani urusan perangkat lunak komputer, menghitung skala pembesarannya, juga ukuran kepingan yang membuat patung tidak kehilangan bentuk asli.

“Pak Nyoman mengajak diskusi tim produksi, ‘Bisa nggak model ini dibesarkan’. Saya belum pernah mencoba, dan waktu itu muncul software AutoCAD. Menurut saya, gagasan Pak Nyoman bisa diterapkan dengan sistem komputerisasi,” kata Djuki.

KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

Model patung Garuda Wisnu Kencana karya Nyoman Nuarta setinggi 3,5 meter dengan lebar 3 meter ini adalah patokan dari patung raksasa yang telah terpasang di Bukit Ungasan, Kabupaten Badung, Bali. Model ini dibesarkan dengan teknologi yang telah dipatenkan tanpa mengubah bentuk dasar.

Cara itu berhasil. Teknik pembesaran itu mendapat hak paten dari Kementerian Kehakiman dengan nomor 009388 tahun 1993, dengan nama “teknik pembuatan patung organis dengan menggunakan pembesaran skala dan pola segmentasi”. Teknik inilah yang kelak dipakai di proyek patung GWK, dengan model setinggi 3,5 meter, dan lebar 3 meter.

Ukuran GWK—dua kali lipat Monjaya—membutuhkan teknologi yang lebih rumit. Patung GWK dirancang mampu menahan gempa, angin kencang, sambaran petir, dan diharapkan tahan sampai 100 tahun—standar daya tahan bagi bangunan monumen.

Ukuran dan segala prasyarat teknis diuji beberapa kali, termasuk di Melbourne (Australia) dan Toronto (Kanada). Hasilnya, patung ini dipercaya tetap teguh didera gempa bumi berkekuatan 8 skala richter, angin sekencang 250 km/jam, dan bisa menyerap energi listrik dari petir.

KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

Wajah Dewa Wisnu dan Garuda pada patung Garuda Wisnu Kencana seperti terlihat pada Jumat (3/8/2018). Patung tersebut terdiri atas 754 modul, atau keping yang tersusun atas penyatuan tembaga. Warna kehijauan pada kulit patung berasal dari proses patina, atau oksidasi, yang juga memberi perlindungan pada loham dari korosi. Sedangkan warna kekuningan di bagian mahkota berasal dari susunan emas yang berlapis kaca.

Daya manusia

Bangunan raksasa tak melulu berbicara tentang teknologi. Ada sumber daya manusia yang bekerja keras mewujudkannya. Djuki menyadari benar hal ini. Dia mencari orang-orang berpengalaman, terutama dalam hal spesifik seperti pengelas logam, juga pemanjat tebing yang terbiasa bergelantungan.

“Mungkin ada banyak tukang las. Tapi yang bisa mengelas tembaga dengan bahan kuningan itu jarang. Kami memberikan pelatihan khusus berbulan-bulan kepada mereka,” kata Djuki.

Para pekerja itu harus tangguh menyesuaikan medan kerja di ketinggian dengan pijakan 80 sentimeter saja. Empasan angin juga bisa membuat gamang. Mereka selalu dilengkapi dengan instrumen keselamatan, seperti sarung tangan, helm, dan pengait tali.

Asupan vitamin dan makanan bergizi pun diberikan rutin. Tekanan darah para pekerja diperiksa. Jika ada yang kelelahan, diizinkan untuk istirahat. Menurut Djuki, hingga hari ini, proyek itu bebas kecelakaan kerja, alias zero accident.

Di setiap saat krusial, saya harus hadir di sana untuk menjaga semangat pekerja

“Di setiap saat krusial, saya harus hadir di sana untuk menjaga semangat pekerja,” kata Djuki, yang sehari-harinya indekos di sekitar area proyek. Sebagian besar pekerja dibawa dari Bandung, Jabar, tempat studio Nyoman Nuarta. Mereka tinggal di mes, dikelompokkan sesuai dengan bidang kerja masing-masing.

Menilik pekerjaan ini berlangsung amat lama, apakah Djuki pernah merasa jenuh? “Jenuh itu wajar, apalagi ketika menunggu kepastian kelanjutan proyek. Tapi saya yakin proyek ini bakal jadi, karena secara teknis masih mungkin dilakukan. Pak Nyoman, dan teman-teman (pekerja senior yang bergabung sejak awal proyek) selalu memberi semangat,” kata Djuki yang mengaku bukan kolektor patung ini.

Atas keteguhan itulah, Djuki dielu-elukan ketika modul terakhir terpasang, dan diusung seperti Didier Deschamp, manajer tim sepakbola Perancis saat menjuarai Piala Dunia 2018.

KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI

Djuki Ridwan (54), manajer proyek pembangunan patung Garuda Wisnu Kencana di GWK Park, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (2/8).

DJUKI RIDWAN

Lahir: Bandung, 7 Mei 1964

Istri: Nia Rosyiortiwati

Anak: Julian Pratama Ridwan, dan Adrian Augustava Ridwan

Pendidikan Terakhir: D3 Informatika, AMIK Bandung

Jabatan: – Project Manager Garuda Wisnu Kencana

  • Direktur PT Siluet Nyoman Nuarta

Beberapa keterlibatan proyek:

  • Monumen Jalesveva Jayamahe, Surabaya
  • Tugu Tarian Langit, Bekasi
  • Patung Arjuna Wijaya, Jakarta
  • Patung Sultan Hasanuddin, Makassar
  • Sejumlah patung karya Nyoman Nuarta di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Oleh : Herlambang Jaluardi

Harian Kompas, 7 Agustus 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *