Festival Desa Budaya di Karangasem, Bali

PARIWISATA

Festival Desa Budaya Dunia di Karangasem untuk Gairahkan Pariwisata

 

DENPASAR, KOMPAS — Pemerintah Kabupaten Karangasem, Bali, berupaya terus memulihkan kegiatan perekonomian masyarakat, termasuk jasa kepariwisataannya, setelah meredup selama berlangsungnya peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Dalam momentum pemulihan sektor pariwisata daerah, Pemerintah Kabupaten Karangasem memfasilitasi penyelenggaraan Festival Desa Budaya Dunia Karangasem 2018 pada Jumat (23/11/2018) hingga Minggu (25/11/2018).

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA

Pemerintah Kabupaten Karangasem memfasilitasi penyelenggaraan Festival Desa Budaya Dunia Karangasem (Karangasem World Cultural Village Festival) 2018 yang akan diselenggarakan di Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. Rencana penyelenggaraan festival disampaikan Ida Bagus Agung Gunarthawa dari tim ahli Bupati Karangasem (kanan) dan Kepala Seksi Analisa Pasar Pariwisata di Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem Anna Christiana (tengah) dalam jumpa media di Denpasar, Bali, Rabu (21/11/2018).

Rencana penyelenggaraan Festival Desa Budaya Dunia Karangasem 2018 itu disampaikan Ida Bagus Agung Gunarthawa dari tim ahli Bupati Karangasem di Denpasar, Bali, Rabu (21/11).

”Kami memaknai secara positif peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung karena momentum itu mengenalkan Karangasem kepada masyarakat Indonesia dan dunia,” kata Gunarthawa.

”Setelah aktivitas vulkanik Gunung Agung terus mereda, kami menggunakan momentum positif ini dengan menampilkan potensi Karangasem. Kami ingin mata masyarakat dunia menemukan Karangasem dan melihat potensinya,” ujar Gunarthawa menambahkan.

Festival Desa Budaya Dunia Karangasem 2018 akan diselenggarakan mulai Jumat (23/11) sampai Minggu (25/11) di Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Karangasem. Desa Jungutan berlokasi sekitar 17 kilometer di utara Amlapura, Ibu Kota Kabupaten Karangasem, atau sekitar 66 kilometer dari Kota Denpasar.

Kepala Seksi Analisa Pasar Pariwisata di Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem Anna Christiana menambahkan, Pemkab Karangasem memfasilitasi kegiatan Festival Desa Budaya Dunia Karangasem 2018 sebagai upaya menampilkan daya tarik dan potensi Karangasem, terutama di sektor pariwisata.

Kegiatan promosi dan festival, termasuk Festival Desa Budaya Dunia Karangasem 2018, juga bertujuan menggairahkan kembali aktivitas ekonomi dan aktivitas pariwisata di Karangasem menyusul menurunnya aktivitas vulkanik Gunung Agung.

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA

Kepala Seksi Analisa Pasar Pariwisata di Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem Anna Christiana.

Menurut Anna, Karangasem memiliki kekhasan dan warisan budaya yang turut mempengaruhi kebudayaan dan peradaban Bali. Di Kabupaten Karangasem terdapat desa tradisional Bali Aga, yakni Tenganan.

Selain itu, Karangasem juga memiliki tradisi masyarakat yang unik, di antaranya megibung (makan bersama), mekare-kare (ritual perang dengan menggunakan pandan berduri), dan mesabatan biu (ritual perang dengan melempar pisang).

Adapun obyek wisata di Karangasem yang sudah dikenal antara lain adalah Candidasa, Tulamben, dan Amed serta Taman Sukasada Ujung. Selain itu, Karangasem juga dikenal sebagai daerah penghasil salak bali.

”Di luar zona 12 kilometer yang menjadi kawasan rawan bencana Gunung Agung, Karangasem masih memiliki banyak potensi menarik yang dapat dilihat wisatawan,” kata Anna di Denpasar.

Festival Desa Budaya Dunia Karangasem 2018 menjadi wahana perayaan keberagaman dari berbagai komponen masyarakat desa adat melalui sejumlah kegiatan, di antaranya parade budaya, dialog lintas budaya, seni musik dan pertunjukan, pameran hasil kriya, tenun, seni kuliner, dan pemutaran film. Festival itu mengangkat tema ”Weaving Identities, Celebrate Culture”.

Gunarthawa menambahkan, festival akan diikuti masyarakat desa adat di Karangasem dan perwakilan masyarakat adat dari sejumlah desa adat di Indonesia, antara lain Baduy, Dayak, Sumba, Flores, dan Mentawai.

Selain itu, festival juga dimeriahkan keikutsertaan peserta dari luar negeri, di antaranya dari Maori, Selandia Baru; Aborigin, Australia; dan Khmu, Laos. ”Kehadiran peserta dari berbagai daerah dan luar negeri diharapkan membantu memulihkan kepercayaan diri Karangasem dan sesuai dengan branding Karangasem sebagai The Spirit of Bali,” ujar Gunarthawa.

Oleh : Cokorda Yudistira

Harian Kompas, 21 November 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *