ARTIST COMMUNITY PACKAGE TOUR

  1. Full Day Barong – Tirta Empul – Kintamani

The Guest will be taken to the Barong Dance Peformance in the Village of Batubulan. Barong is one of the most famous dance, with tells the struggle between good and evil. The Trip will continue to visit Tirta Empul Temple in Tampaksiring. Tirta Empul is one of heritage sites. For Trevellers who want a taste, the freshness of the water in Taman Tirta Empul. In this area The is a Presidential Palace was build after Indonesia’s Independence. Upon finish will be taken to Kintamani is one of the favorite tourist destinations in Bali with active Mount Batur Volcano and Lake are beautiful. Continue reading “ARTIST COMMUNITY PACKAGE TOUR”

Package Tour 4 hari / 3 malam

Package Tour 4 hari / 3 malam

Periode 29 Mei – 01 Juni 2018 ( 38 Pax )

SMP TUNAS BANGSA – CIKARANG

 

Dokumen Gde Nogata – Tripeventbali.com

TOUR Hari Pertama – kami telah siap di area penjemputan kedatangan domestik sejak pukul 11.30 Wita, akhirnya setelah menunggu sekitar satu jam mereka keluar. Kemudian mereka kami arahkan menuju area parkir kendaraan 2 bus sedang yang telah disiapkan.

Dokumen Gde Nogata – Tripeventbali.com

Setelah sampai menjelang area parkir – kami sempatkan untuk acara seremonial kalungan bunga satu per satu di antara mereka, walau nampak jelas masih kelelahan, maklum ternyata mereka persiapannya sejak pukul 02.00 dini hari, karena dari tempat asalnya di Cikarang – Bekasi, menuju Bandara Soekarno-Hatta, di kawasan Cengkareng, Tangerang memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan darat dengan bus, walau melewati jalan toll.

Continue reading “Package Tour 4 hari / 3 malam”

Wisata Hutan Jati dengan KA Kuno di Blora

Susur Hutan Jati dengan Roda Besi

KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO (WHO) Lokomotif kereta uap, diberi nama oleh Presiden RI, Soekarno, yakni Kereta Bahagia, merupakan kereta tua buatan 1928 dari Jerman. Kereta uap ini berjaya mulai 1928-1990, masih beroperasi untuk membawa angkutan kayu jati epanjang 36 kilomeetr dari hutan ke pusat penimbunan kayu di Cepu, Blora, Jawa Tengah. Lokomotif uap ini masih beroperasi dan jadi andalan di wisata Heritage Train Loko Tour, wisatawan dapat menikmati perjalanan loko uap ini dengan tarif lumayan mahal.

Continue reading “Wisata Hutan Jati dengan KA Kuno di Blora”

Adventure to KOMODO

Wisata Kepulauan

BERTEMU PARA KOMODO

Avontur – Harian Kompas, 19 November 2017

Adishree, salah satu kapal yang disewakan kepada wisatawan untuk menikmati keindahan Kawasan Taman Nasional Komodo. Bisa lihat komodo? Tanya seorang kawan lewat aplikasi percakapan saat diberitahukan kepadanya ihwal operator wisata yang melayani pelesiran ke sejumlah pulau dalam kawasan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Continue reading “Adventure to KOMODO”

Pariwisata Indonesia Prospektif dikembangkan

SEKTOR RIIL Pariwisata Indonesia Prospektif Dikembangkan JAKARTA, KOMPAS —29 Agustus 2017 21:22 WIB

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO Kawasan perairan di Pianemo yang memiliki pemandangan mirip Wayag−sama-sama berada di Raja Ampat, Papua Barat−dideklarasikan masyarakat setempat menjadi perairan perlindungan laut Kepulauan Fam. Perairan ini memiliki luas 350.000 hektar serta menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan dan karang, seperti terlihat pada Kamis (17/2).

Bidang pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan untuk menambah devisa negara. Sektor ini juga bisa menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pariwisata menjadi sektor unggulan untuk menambah devisa negara. ”Keunggulan ini dapat dilihat dari lokasi geografis Indonesia yang strategis serta keanekaragaman alam, budaya, dan bahasa negeri ini,” katanya, Selasa (29/8), di Jakarta.

Karena pariwisata prospektif menjadi sektor unggulan, diperlukan pengembangan destinasi pariwisata. ”Pengembangan ini membutuhkan tenaga kerja siap pakai di bidang pariwisata. Kebutuhan ini akan meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Bambang.

Berdasarkan dokumen rencana strategi Kementerian Pariwisata 2015-2019, jumlah tenaga kerja total di sektor pariwisata ditargetkan 12,7 juta orang pada 2018 dan mencapai 13 juta orang pada 2019. Menurut Bambang, untuk mengembangkan sektor pariwisata di suatu daerah, perlu tenaga kerja yang berasal dari daerah itu sendiri. Dia menjelaskan, ”Orang-orang asli daerah itu yang lebih paham daerahnya sendiri. Akan tetapi, mereka perlu dilatih secara khusus untuk mengembangkan pariwisata di daerahnya.”

Pelatihan itu dapat diperoleh melalui pendidikan kejuruan, pemagangan, atau balai latihan kerja (BLK). Bappenas mencatat, ada 16 BLK kejuruan pariwisata, 982 SMK kejuruan pariwisata, 14 sekolah tinggi kepariwisataan, dan 2 politeknik kepariwisataan.

Ide ini disambut baik oleh pengamat pariwisata, Sapta Nirwandar. ”Kalau perlu, satu kabupaten satu destinasi pariwisata,” katanya. Dia menjelaskan, dari sekitar 500 kota dan kabupaten di Indonesia, kurang dari 10 persen yang sudah memiliki destinasi pariwisata. ”Padahal, ada 300 sampai 400 destinasi pariwisata yang dapat menjadi ikon daerah masing-masing,” ujarnya.

KOMPAS/INGKI RINALDI Sejumlah pengunjung menikmati hamparan kebun bunga di Taman Rekreasi Hotel dan Restoran Selecta, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (29/3/2011).

Perkembangan pariwisata di kota Batu, Jawa Timur, dijadikan contoh oleh Sapta. Dia menceritakan, pada tahun 2000 destinasi pariwisata yang terkenal dari Kota Batu adalah air terjun Coban Rondo, permandian air hangat Songgoriti, dan taman rekreasi Selecta. ”Sekarang ditambah lagi dengan adanya Jawa Timur Park 1 dan 2, Museum Angkut, dan Batu Night Spectacular,” katanya.

Untuk meningkatkan potensi pariwisata di daerah, pemerintah pusat perlu bersinergi dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan atraksi, aksesibilitas, dan amenitas (sarana-prasarana). ”Tentunya sinergi ini tidak lepas dari otonomi daerah itu dalam mengembangkan pariwisatanya,” katanya.

Akan tetapi, sinergi ini menjadi tantangan bagi agen perjalanan. Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Asnawi Bahar menyampaikan, belum semua kepala daerah dapat diajak bekerja sama. ”Karena itu, bagi kami lebih baik fokus dalam pengembangan satu atau dua destinasi pariwisata yang memang siap dipasarkan,” ujarnya.

Ada tiga parameter yang menjadi indikator kesiapan tersebut, menurut Asnawi, yakni kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), dan masyarakat sekitar. Dia menjelaskan, ”Infrastruktur bisa dilihat dari aksesnya. Kesiapan SDM dapat ditinjau dari adanya pemandu lokal, sedangkan kesiapan masyarakat sekitar dilihat dari kesadaran akan budayanya.” (DD09)

EVENTS

Tari Baris Dadap, Tari Sakral Pengusir Kejahatan

Tari Baris menurut Babad Bali merupakan tarian pasukan perang. “Baris” yang berasal dari kata berbaris dapat diartikan pasukan, maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria, umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh, lugas dan dinamis, dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede.
Ada keunikan terhadap tarian ini, terutamanya di desa Pakraman Bukit, kecamatan tampaksiring terdapat tari baris dadap. Tari baris dadap adalah tari yang dipentaskan empat penari laki-laki yang telah berusia 17 tahun ke atas. Tari Baris Dadap merupakan tari peperangan dan pengusir kekuatan jahat. Hal itu dikarenakan, ketika mementaskannya para penari membawa senjata berupa tombak kecil dan tameng yang berbentuk seperti perahu, keduanya terbuat dari kayu dapdap dan dikasih daun dapdap yang dipegang oleh para penari. Baris yang membawa senjata dapdap, gerakannya lebih lembut dari jenis-jenis tari baris lainnya dan penarinya menari sambil menyanyikan tembang berlaras slendro dengan diiringi gamelan angklung yang juga berlaras slendro dan ditarikan dalam upacara dewa yadnya. “Tari ini berfungsi untuk menetralisir kekuatan jahat agar tidak mengganggu masyarakat sekitar desa”.
Dalam Menarikannya, penari baris dadap akan menari menghadap empat penjuru mata angin. Pertama ke utara, setelah itu ke timur, lalu ke selatan dan ke barat. Ini dilakukan sebanyak empat putaran, setelah semua selesai lalu kembali ke selatan. Ini dilakukan agar tidak ada kekuatan jahat yang datang dari empat penjuru mata angin tersebut. Tari baris dadap merupakan tarian sakral yang masuk dalam prosesi upacara piodalan. Pementasannya tidak boleh sembarangan. Ada hari-hari tertentu untuk mementaskannya.
Demikian artikel saya buat, semoga bermanfaat bagi para pembaca…Suksma…

Pariwisata Indonesia Prospektif Dikembangkan

SEKTOR RIIL

Pariwisata Indonesia Prospektif Dikembangkan

JAKARTA, KOMPAS  — 29 Agustus 2017

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO

Kawasan perairan di Pianemo yang memiliki pemandangan mirip Wayag−sama-sama berada di Raja Ampat, Papua Barat−dideklarasikan masyarakat setempat menjadi perairan perlindungan laut Kepulauan Fam. Perairan ini memiliki luas 350.000 hektar serta menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan dan karang, seperti terlihat pada Kamis (17/2).

Bidang pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan untuk menambah devisa negara. Sektor ini juga bisa menyerap tenaga kerja yang cukup besar.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pariwisata menjadi sektor unggulan untuk menambah devisa negara. ”Keunggulan ini dapat dilihat dari lokasi geografis Indonesia yang strategis serta keanekaragaman alam, budaya, dan bahasa negeri ini,” katanya, Selasa (29/8), di Jakarta.

Karena pariwisata prospektif menjadi sektor unggulan, diperlukan pengembangan destinasi pariwisata. ”Pengembangan ini membutuhkan tenaga kerja siap pakai di bidang pariwisata. Kebutuhan ini akan meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Bambang.

Berdasarkan dokumen rencana strategi Kementerian Pariwisata 2015-2019, jumlah tenaga kerja total di sektor pariwisata ditargetkan 12,7 juta orang pada 2018 dan mencapai 13 juta orang pada 2019.

Menurut Bambang, untuk mengembangkan sektor pariwisata di suatu daerah, perlu tenaga kerja yang berasal dari daerah itu sendiri. Dia menjelaskan, ”Orang-orang asli daerah itu yang lebih paham daerahnya sendiri. Akan tetapi, mereka perlu dilatih secara khusus untuk mengembangkan pariwisata di daerahnya.”

Pelatihan itu dapat diperoleh melalui pendidikan kejuruan, pemagangan, atau balai latihan kerja (BLK). Bappenas mencatat, ada 16 BLK kejuruan pariwisata, 982 SMK kejuruan pariwisata, 14 sekolah tinggi kepariwisataan, dan 2 politeknik kepariwisataan.

Ide ini disambut baik oleh pengamat pariwisata, Sapta Nirwandar. ”Kalau perlu, satu kabupaten satu destinasi pariwisata,” katanya.

Dia menjelaskan, dari sekitar 500 kota dan kabupaten di Indonesia, kurang dari 10 persen yang sudah memiliki destinasi pariwisata. ”Padahal, ada 300 sampai 400 destinasi pariwisata yang dapat menjadi ikon daerah masing-masing,” ujarnya.

KOMPAS/INGKI RINALDI

Sejumlah pengunjung menikmati hamparan kebun bunga di Taman Rekreasi Hotel dan Restoran Selecta, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (29/3/2011).

Perkembangan pariwisata di kota Batu, Jawa Timur, dijadikan contoh oleh Sapta. Dia menceritakan, pada tahun 2000 destinasi pariwisata yang terkenal dari Kota Batu adalah air terjun Coban Rondo, permandian air hangat Songgoriti, dan taman rekreasi Selecta. ”Sekarang ditambah lagi dengan adanya Jawa Timur Park 1 dan 2, Museum Angkut, dan Batu Night Spectacular,” katanya.

Untuk meningkatkan potensi pariwisata di daerah, pemerintah pusat perlu bersinergi dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan atraksi, aksesibilitas, dan amenitas (sarana-prasarana). ”Tentunya sinergi ini tidak lepas dari otonomi daerah itu dalam mengembangkan pariwisatanya,” katanya.

Akan tetapi, sinergi ini menjadi tantangan bagi agen perjalanan. Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Asnawi Bahar menyampaikan, belum semua kepala daerah dapat diajak bekerja sama. ”Karena itu, bagi kami lebih baik fokus dalam pengembangan satu atau dua destinasi pariwisata yang memang siap dipasarkan,” ujarnya.

Ada tiga parameter yang menjadi indikator kesiapan tersebut, menurut Asnawi, yakni kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), dan masyarakat sekitar. Dia menjelaskan, ”Infrastruktur bisa dilihat dari aksesnya. Kesiapan SDM dapat ditinjau dari adanya pemandu lokal, sedangkan kesiapan masyarakat sekitar dilihat dari kesadaran akan budayanya.” (DD09)

Julah Dengan Sistem Pemerintahan Kuno Yang Lestari di Jaman Modern

Julah Dengan Sistem Pemerintahan Kuno Yang Lestari di Jaman Modern By Redaksi Koran Buleleng – May 16, 2016

Pura Bale Agung Desa Julah. Pura ini salah satu bukti fisik dari warisan adat dan budaya masa lalu.

Singaraja | Desa Julah, di Kecamatan Tejakula tergolong masih relatif mampu memelihara warisan adat dan budaya leluhurnya dari ribuan tahun silam. Desa ini salah satu gugusan desa tua di Kabupaten Buleleng. Sesuai prasasti di Pura Balai Agung Desa Julah, desa di pesisir Buleleng bagian timur itu sudah ada pada tahun caka 844 atau tanggal 24 Januari 923 Masehi pada zaman pemerintahan Sang Ratu Sri Ugrasena di Bali.

Salah satu yang masih sangat dijaga sampai saat ini yakni sistem pemerintahan desa yang masih manut terhadap pemerintahan kuno di masa lalu yakni sistem Hulu Apad.Dalam sistem ini, pemerintahan tertinggi dikendalikan oleh dua orang Jero Kubayan dan empat orang Jero Bau. Mereka mengatur krama tatanan keagamaan dan adat dari krama negak dan Buwit.

Sistem pemerintahan Desa Pekraman dan Perbekel yang mengatur tata pemerintahan desa dan desa adat di Desa Julah dibentuk jauh belakangan. Kedua sistem pemerintahan ini harus tunduk terhadap pemerintahan Hulu Apad ini, walaupun kedua sistem ini punya aturan tersendiri yang dibentuk oleh Negara.

Kubayan adalah dua tokoh sentral yang tertinggi mengatur secara otonom terkait dengan prosesi keagamaan dan adat masyarakat adat Desa Julah. Kubayan memiliki otoritas religius magis yang sangat tinggi, dan masih dipercaya oleh masyarakat Desa Julah walaupun sampai saat ini mereka hidup di jaman modern. Dalam struktur pemerintahan Hulu Apad ini, dibawah Jero Kubayan ditempati oleh empat orang Bau.

Klian Desa Pekraman Julah, Ketut Sidemen mengungkapkan untuk mencapai posisi sebagai Kubayan tidaklah gampang. Itu berlangsung selama bertahun-tahun, dan dipastikan ketika mencapai posisi tertinggi itu, seseorang masih dalam kondisi fisik yang sehat lahir dan batin, sekala dan niskala.

“Tidak bisa sembarangan untuk mencapai itu. Jalannya sangat panjang. Namun kami mempercayai, mereka yang mencapai posisi itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa, “ ujar Sidemen. Jero Kubayan, adalah pemimpin yang mengatur tatanan religius dalam menjalankan prosesi keagamaan, adat dan budaya di tingkat desa. Sementara pemimpin yang mengatur tatanan keagamaan ditingkat keluarga dinamakan Balian. Sementara, posisi klian desa pekraman mengatur ruang bagi warga ketika berinteraksi dalam proses adat diinternal warga adat julah dan berhubungan dengan dunia luar sesuai dengan tugas pemerintahan adat yang diatur oleh undang-undang. “Posisi Klian Desa Pekraman itu jauh dibawah Jero Kubayan dan Jero Bau. Ada garis yang memisahkan itu. Saya berada diantara pra krama negak ini. Ketika ada paruman, saya mengumpulkan dan selalu berkoordinasi atau berkomunikasi warga. Jika harus diputuskan oleh Jero Kubayan, maka kami harus tunduk,” terang Sidemen. Sistem pemerintahan ini adalah warisan dari nenek moyang Desa Julah sejak lama dan tidak ada yang berani merubahnya karena diyakini sangat sakral.

Diperkirakan, sistem pemerintahan Hulu Apad ini sudah ada sebelum berdirinyaa kerajaan-kerajaan besar di Bali. Hal ini tercatat dalam prasasti Julah yang saat ini juga ditempatkan di Pura Bale Agung Desa adat julah. Sementara itu, disisi lain Akademisi dari Universitas Pendidikan Ganesha Prof. Dr. I Nengah Bawa Atmaja juga mengungkapkan Desa Julah itu unik, mewakili beberapa desa Bali Aga yang ada di Buleleng. Mewakili dalam arti sebagai salah satu bentuk desa Bali Aga yang ada di Buleleng. Desa Julah sebagai desa tua relatif masih mampu menjaga tradisi-tardisinya, bisa bertahan sampai sekarang.

Mengapa Dia bertahan? Kata Bawa Atmaja karena struktur pemerintahan desa yang berada dibawah Kubayan masih berjalan dengan kuat. Kubayan memiliki otoritas religius magis yang tinggi, sehingga suaranya masih didengar dalam kontek mempertahankan tradisi di Desa Julah.

Keberadaan Kubayan ini tidak terlepas dari sejarah panjang Desa Julah sebagai desa tua. Dari latar belakang sejarah, dulunya Julah adalah pusat kekuasaan atau kerajaan-kerajaan lokal berbasis desa adat. Kerajaan-kerajaan lokal sudah ada jauh sebelum jaman kerajaan-kerajaan besar di Bali, seperti Kerajaan Udayana, Dinasti Warmadewa dan lain sebagainya.

Dalam menentukan posisi Kubayan itu harus merangkak dari bawah. “Bukan hanya mempertimbangkan ketahanan fisik ketika sesorang mencapai posisi Kubayan, tetapi mereka mempercayai bahwa yang menjadi seorang Kubayan itu adalah kehendak para dewa. Maka itu kekuasannya tidak bersifat duniawi namun religius magis,” papar Bawa Atmaja saat ditemui di Undikhsa beberapa hari lalu.

Menurut Bawa Atmaja, meskipun ada pemerintahan adat dan pemerintahan desa yang dibentuk sesuai dengan peraturan Negara di jaman sekarang, namun sistem pemerintahan ini tidak serta merta bisa mengambil alih kekuasaan Kubayan. Justru keberadaan desa pekraman saling berdampingan tanpa mengambil tugas atau kekuasaan Kubayan.

“Urusannya tentu jauh bereda. Kubayan mewakaili umat ke atas (Dewa), sementara desa pekraman urusan keluar,” terang Bawa Atmaja. Dalam urusan tertentu, Klian Desa Pekraman ini tidak bisa melepaskan diri dari kekuasaan Kubayan. Dia harus tunduk dengan perintah Kubayan.

Bawa Atmaja menegaskan Desa Julah tidak akan lestari jika sistem pemerintahan ini dirubah dengan mengesampingkan posisi Kubayan. “Harus dipahami, Desa Julah masih lestari sampai saat ini karena desa ini masih mampu merawat adat dan tradisinya yakni sstem pemerintahan Hulu Apad. Masih ada Kubayan. Jika kekuasannya diambil alih atau diganti, kemungkinan besar warisan masa lalunya akan hilang.Desa Julah tidak akan lestari seperti sekrang, “ tegas BAwa Atmaja.

Bawa berharap, Desa Julah tetap seperti sekarang. Tetap merawat warisan dari nenek moyangnya di masa lalu. Menjaga adat dan tradisi dengan cara budaya mereka sebagai warga Desa Julah.

Julah Tidak Mengenal Soroh Dalam pergaulan kesehariannya, Desa Julah tidak mengenal adanya soroh. Tipe masyarakat Julah termasuk dalam golongan egaliter atau menjungjung tinggi kesamarataan dan tidak mengenal kelas sosial. Salah satu ciri masyarakat egaliter yang ditonjolkan dari warga Desa Julah yakni bentuk dan luas rumah yang hampir sama . Tatanan rumah warga di Desa Julah ini memakai prinsip sosialisme tradisional.

“Rumahnya dibuat sama, prinsipnya penyeragaman, kesamarataan. Sistem egaliter yang ada pada diri masyarakat Julah juga tercermin dari prinsip penguasaan sumber daya alamnya. Di Julah dulunya tidak mengenal kepemilikan tanah pribadi, yang ada adalah milik adat. Kepemilikan tanah pribadi ini baru terjadi belakangan,” terang Bawa Atmaja yang juga sempat melakukan penelitian di Desa Julah.

Sementara itu, Klian Desa Pekraman Julah, Ketut Sidemen mengungkapkan Pura Dalem sebagai sebuah simbol warga Julah tidak mengenal golongan. Di dalam Pura Dalem ada beberapa bagian Pura seperti Pura Dalem Kawitan. Pura dalem Kawitan ini berfungsi untuk menempatkan roh atau orang yang sudah meninggal. “Tidak ada lagi upacara lain jika roh yang sudah meninggal ditempatkan di Pura Dalem Kawitan ini. Dalem Kawitan ini khusus untuk penduduk Bali Mula, warga Julah,” ujarnya.

Ada juga areal Dalem Beneh, atau Dalem Bali. Dalem Bali ini khusus untuk melakukan upacara prosesi kematian untuk menyerahkan roh penduduk pendatang dari Bali. Salah satu sarana untuk penempatan jenasah |Foto : Nova Putra|

“Warga Julah sebenarnya sangat terbuka dengan orang luar. Siapapun yang yang masuk dan menjadi masyarakat Julah diperkenankan oleh warga Julah sepanjang mengikuti tradisi dan adat budaya Desa Julah,” terangnya. Begitu juga, ada pula yang namanya areal Dalem Jawa yang secara khusus untuk menempatkan roh yang dulunya sebagai pendatang dari luar Bali. Masing-masing prosesinya itu mempunyai ciri khas yang berbeda-beda.

Selain itu, cermin kesamarataan dan tidak kenal soroh ini juga terlihat ketika seorng warga desa yang meninggal. Di desa Ini tidak mengenal konsep ngaben atau pembakaran jenasah, namun jasadnya hanya dikuburkan semata. |NP|

Sumber : Koran Buleleng.com

Fantastic Bali – Lombok Overland Package Tour

BALI – LOMBOK PACKAGE TOUR

FULL DAY TOUR 1 :

Tanjung Benoa – Padang-Padang – Uluwatu – Kecak Dance – Lunch / Dinner.

FULL DAY TOUR 2 :

Padang Bay to Gili by Fast Boat – Malimbu – Desa Sade – Tanjung Aan – Pantai Kuta Lombok Lunch / Dinner.

FULL DAY TOUR 3 :

Gili Trawangan via Teluk Nare – Lunch By Fast Boat – Padang Bay (Bali) – Dinner.

FULL DAY TOUR 4 :

Waterfall Tegenungan – Bali Zoo – Lunch / Dinner.

FULL DAY TOUR 5 :

DMZ – Shopping – Out – Lunch.

IDR. 3.175 K / Pax (minimal 15 pax)

IDR. 3.395 K / Pax (minimal 12 pax)

Pariwisata Indonesia Prospektif Dikembangkan

Harian Kompas, 29 Agustus 2017 JAKARTA, KOMPAS — Bidang pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan untuk menambah devisa negara. Sektor ini juga bisa menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pariwisata menjadi sektor unggulan untuk menambah devisa negara. ”Keunggulan ini dapat dilihat dari lokasi geografis Indonesia yang strategis serta keanekaragaman alam, budaya, dan bahasa negeri ini,” katanya, Selasa (29/8), di Jakarta. Karena pariwisata prospektif menjadi sektor unggulan, diperlukan pengembangan destinasi pariwisata. ”Pengembangan ini membutuhkan tenaga kerja siap pakai di bidang pariwisata. Kebutuhan ini akan meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Bambang. Berdasarkan dokumen rencana strategi Kementerian Pariwisata 2015-2019, jumlah tenaga kerja total di sektor pariwisata ditargetkan 12,7 juta orang pada 2018 dan mencapai 13 juta orang pada 2019. Menurut Bambang, untuk mengembangkan sektor pariwisata di suatu daerah, perlu tenaga kerja yang berasal dari daerah itu sendiri. Dia menjelaskan, ”Orang-orang asli daerah itu yang lebih paham daerahnya sendiri. Akan tetapi, mereka perlu dilatih secara khusus untuk mengembangkan pariwisata di daerahnya.” Pelatihan itu dapat diperoleh melalui pendidikan kejuruan, pemagangan, atau balai latihan kerja (BLK). Bappenas mencatat, ada 16 BLK kejuruan pariwisata, 982 SMK kejuruan pariwisata, 14 sekolah tinggi kepariwisataan, dan 2 politeknik kepariwisataan. Ide ini disambut baik oleh pengamat pariwisata, Sapta Nirwandar. ”Kalau perlu, satu kabupaten satu destinasi pariwisata,” katanya. Dia menjelaskan, dari sekitar 500 kota dan kabupaten di Indonesia, kurang dari 10 persen yang sudah memiliki destinasi pariwisata. ”Padahal, ada 300 sampai 400 destinasi pariwisata yang dapat menjadi ikon daerah masing-masing,” ujarnya.

KOMPAS/INGKI RINALDI Sejumlah pengunjung menikmati hamparan kebun bunga di Taman Rekreasi Hotel dan Restoran Selecta, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (29/3/2011). Perkembangan pariwisata di kota Batu, Jawa Timur, dijadikan contoh oleh Sapta. Dia menceritakan, pada tahun 2000 destinasi pariwisata yang terkenal dari Kota Batu adalah air terjun Coban Rondo, permandian air hangat Songgoriti, dan taman rekreasi Selecta. ”Sekarang ditambah lagi dengan adanya Jawa Timur Park 1 dan 2, Museum Angkut, dan Batu Night Spectacular,” katanya. Untuk meningkatkan potensi pariwisata di daerah, pemerintah pusat perlu bersinergi dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan atraksi, aksesibilitas, dan amenitas (sarana-prasarana). ”Tentunya sinergi ini tidak lepas dari otonomi daerah itu dalam mengembangkan pariwisatanya,” katanya. Akan tetapi, sinergi ini menjadi tantangan bagi agen perjalanan. Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Asnawi Bahar menyampaikan, belum semua kepala daerah dapat diajak bekerja sama. ”Karena itu, bagi kami lebih baik fokus dalam pengembangan satu atau dua destinasi pariwisata yang memang siap dipasarkan,” ujarnya. Ada tiga parameter yang menjadi indikator kesiapan tersebut, menurut Asnawi, yakni kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), dan masyarakat sekitar. Dia menjelaskan, ”Infrastruktur bisa dilihat dari aksesnya. Kesiapan SDM dapat ditinjau dari adanya pemandu lokal, sedangkan kesiapan masyarakat sekitar dilihat dari kesadaran akan budayanya.” (DD09)